Media Berkemajuan

25 Mei 2024, 06:59

Terjadi Gerhana Matahari Total 8 April 2024. Bisakah disaksikan di Indonesia?

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram
Print
gerhana matahari total
Ilustrasi posisi Matahari Bulan dan Bumi saat Gerhana Matahari Total [GMT] pada 8 April 2024 [Foto: tribunnews.com]

Banjarmasin, mu4.co.id – Setelah sebelumnya terjadi fenomena Gerhana Bulan Penumbra (GBP) pada 25 Maret lalu. Kini kembali terjadi Gerhana Matahari Total (GMT) pada 8 April 2024 mendatang atau tepatnya dua hari sebelum Idulfitri 1 Syawal 1445 H. Peristiwa ini akan menjadi gerhana Matahari pertama di tahun ini.

Gerhana Matahari Total adalah gerhana Matahari yang terjadi ketika piringan Matahari tertutupi seluruhnya oleh piringan Bulan. Saat gerhana ini terjadi, piringan Bulan bisa tampak sama besar dengan piringan Matahari, atau bahkan lebih besar lagi.

Simulasi saat cahaya matahari tertutupi oleh bulan sehingga bayangan bulan jatuh melintasi wilayah di benua Amerika dan wilayah tersebut menjadi gelap untuk beberapa menit [Foto: vox.com]

Gerhana Matahari Total biasanya terjadi setiap 18 bulan sekali. Ketika terjadi Gerhana Matahari Total, Bulan akan melemparkan bayangan umbra ke permukaan Bumi sehingga bayangan itu akan menutupi sepertiga dari seluruh planet selama beberapa jam.

Baca juga: Terjadi Gerhana Bulan Penumbra 25 Maret 2024, Apakah Dianjurkan Salat Gerhana?

Masih menurut BMKG, lokasi terjadinya Gerhana Matahari Total tanggal 8 April 2024 hanya dapat diamati di Amerika Utara, Amerika Serikat, Meksiko, Amerika Serikat bagian tengah dan Kanada bagian timur. Dan tidak dapat diamati dari Indonesia.

Peta jalur lintasan Gerhana Matahari Total di benua Amerika pada 8 April 2024 [Foto: nationaleclipse.com]

“Jalur Gerhana Matahari Total hanya akan melewati wilayah Benua Amerika, dan akan terjadi selama beberapa jam lamanya. Kota yang terlewati jalur Gerhana Matahari Total dengan Durasi Totalitas terpanjang adalah selama 4 menit 26 detik,” tulis rilis BMKG.

Berikut waktu proses global fase Gerhana Matahari Total:

  • Gerhana Sebagian mulai di lokasi awal: 15.42.15 UT atau sekitar 22.42.15 WIB
  • Gerhana Total mulai di lokasi awal: 16.38.52 UT atau sekitar 23.38.52 WIB
  • Puncak Gerhana: 18.17.21 UT atau sekitar 01.17.21 WIB
  • Gerhana Total berakhir di lokasi akhir: 19.55.35 UT atau sekitar 02.55.35 WIB
  • Gerhana Sebagian berakhir di lokasi akhir: 20.52.19 UT atau sekitar 03.52.19 WIB

Baca juga: NASA Umumkan Akan Ada Gerhana Matahari Total Jelang Lebaran, Ahli Astronomi Arab Ungkapkan Dampaknya!

Dikutip dari detik.com, Senin (1/4) pada saat terjadi Gerhana Matahari Total, wilayah yang dilalui gerhana akan mengalami kegelapan secara total, namun hanya akan berlangsung beberapa saat saja atau tidak sampai berhari-hari. Gelap akibat gerhana hanya terjadi pada wilayah yang dilalui jalur totalitasnya saja.

Perlu diketahui, Gerhana Matahari Total tidak boleh diamati secara langsung dengan mata telanjang. Sebab walaupun hanya beberapa detik dapat mengakibatkan kerusakan permanen retina mata akibat radiasi tinggi yang dipancarkan dari fotosfer Matahari.

Kerusakan yang ditimbulkan tersebut dapat mengakibatkan kebutaan. Untuk menyaksikan Gerhana Matahari butuh menggunakan pelindung mata khusus. Selain itu juga bisa dengan menggunakan metode melihat gerhana secara tidak langsung.

Dikarenakan Gerhana Matahari Total pada 8 April 2024 kali ini tidak melewati wilayah Indonesia, maka tidak ada pelaksanaan salat gerhana. Sebagaimana diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَكْسِفَانِ لِمَوْتِ اَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ تَعَالَى فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَقُومُوا وَصَلُّوا

“Sungguh, gerhana matahari dan bulan tidak terjadi disebabkan mati atau hidupnya seseorang, tetapi itu merupakan salah satu tanda kebesaran Allah ta’ala. Karenanya, bila kalian melihat gerhana matahari dan gerhana bulan, bangkit dan salatlah kalian,” (HR. Bukhari no.1057, Muslim no.911).

Lafaz hadits di atas menegaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkaitkan disyariatkannya salat gerhana ketika seseorang melihat peristiwa itu secara langsung (rukyatul kusuf), bukan terjadi di tempat lain.

[post-views]
Selaras
error: Content is protected !!