Media Utama Terpercaya

31 Oktober 2026, 23:27
Search

Terima Kunjungan KLH, Muhammadiyah Bahas Wakaf Hutan hingga Taubat Ekologis

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
PP Muhammadiyah terima kunjungan Kementerian Lingkungan Hidup
PP Muhammadiyah terima kunjungan Kementerian Lingkungan Hidup. [Foto: Muhammadiyah]

Yogyakarta, mu4.co.id – Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menerima kunjungan dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) RI pada Jum’at (30/10). Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan sejumlah gagasan terkait pengelolaan sampah, penyelamatan hutan, dan pentingnya pembangunan berwawasan lingkungan.

Haedar menegaskan program lingkungan Muhammadiyah tidak hanya berfokus pada perawatan fisik, tetapi juga edukasi praktis dan spiritual. Ia turut menyambut gagasan “Taubat Ekologis” yang disampaikan Menteri Lingkungan Hidup Moh. Jumhur Hidayat sebagai pendekatan ekoteologi KLH.

“Jadi ini bukan hanya pemeliharaan tapi juga advokasi. Bahkan ada program tobat ekologis yang saya yakin itu ada aspek teologisnya,” ucap Haedar dikutip dari laman Muhammadiyah, Sabtu (31/10).

Baca Juga: Tanah Wakaf Muhammadiyah Dikembangkan Jadi Hutan yang Produktif, Dengan Libatkan Perempuan!

Haedar juga menjelaskan gerakan Wakaf Hutan Muhammadiyah yang memanfaatkan lahan kosong, khususnya tanah wakaf, untuk ditanami kembali sebagai upaya konservasi lingkungan.

Ia turut menekankan pentingnya pemerintah merangkul masyarakat dalam penegakan hukum lingkungan. Pengawasan publik juga diperlukan untuk memastikan korporasi dan pihak lain mematuhi aturan yang berlaku.

“Kalau memang itu tindakan-tindakan kriminal dilakukan oleh pihak tertentu dengan tujuan-tujuan tertentu, itu seharusnya urusan pidana yang harus teratasi. Tapi jika menyangkut habit penduduk setempat yang biasa bakar lahan karena keterbatasan teknologi, ya ini menjadi problem yang harus bisa kita pecahkan bersama,” jelasnya.

Baca Juga: Pernyataan Muhammadiyah Tentang Karhutla: Karhutla Tidak Boleh Dinormalisasi sebagai Bencana Tahunan

Haedar menekankan pentingnya paradigma “Membangun Tanpa Merusak” yang sejalan dengan prinsip ihsan dalam Islam. Menurutnya, alam tetap dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan bersama, tetapi harus dikelola secara bertanggung jawab, bukan dieksploitasi maupun sepenuhnya dilarang untuk dimanfaatkan.

Mengacu pada buku Why Nations Fail karya James Robinson, Haedar juga mengingatkan agar Indonesia tidak sekadar meniru model pembangunan negara lain, melainkan percaya diri mengembangkan potensi masyarakat dan institusi dalam negeri.

“Dan jangan jatuh dari mulut harimau ke mulut buaya. Intinya nafsu nafsu yang merusak kita tidak menghendaki itu,” tuturnya.

(Muhammadiyah)

[post-views]
Selaras