Jakarta, mu4.co.id – Pemerintah Indonesia tengah mematangkan rencana impor minyak mentah dari Rusia dengan total volume sekitar 150 juta barel untuk memenuhi kebutuhan energi nasional hingga akhir 2026. Skema pelaksanaan impor saat ini masih dalam tahap finalisasi.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menjelaskan, pemerintah sedang menyiapkan berbagai opsi mekanisme pengadaan, termasuk melalui penugasan badan usaha milik negara (BUMN) maupun skema badan layanan umum. Regulasi juga disusun agar proses pengadaan berjalan sesuai aspek pembiayaan, distribusi, dan kerja sama antarnegara.
“Nah untuk ini komitmen impor minyak dari Rusia ini kan baru negosiasi kemarin kan sudah disepakati total yang akan kita impor dari Rusia itu kan sekitar 150 juta barel untuk mencukupi kebutuhan kita sampai dengan akhir tahun,” ujarnya dilansir dari Republika, Sabtu (25/4).
Ia menegaskan, realisasi impor tidak dilakukan sekaligus karena keterbatasan kapasitas penyimpanan dalam negeri. Oleh karena itu, pengadaan akan dilakukan secara bertahap sembari menyiapkan infrastruktur pendukung.
Baca juga: Sempat Diizinkan Lintasi Selat Hormuz, 1 Juta Barel Minyak Mentah Irak Tiba di Malaysia!
Selain minyak mentah, pemerintah juga memasukkan LPG dalam skema impor energi. Pasokan energi tetap dibuka dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, guna menjaga ketahanan energi nasional.
“Yang perlu kita tekankan kan ada dua komitmen impor kita. Yang pertama adalah crude, yang kedua adalah LPG,” katanya.
Yuliot juga menyoroti perbedaan mekanisme antara skema BUMN dan kerja sama antarnegara (government to government/G2G). Skema BUMN mengharuskan proses tender, sementara G2G dinilai lebih fleksibel dalam pelaksanaannya.
Minyak mentah dari Rusia nantinya akan dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan dalam negeri, mulai dari bahan bakar hingga industri petrokimia dan sektor pertambangan.
Di sisi lain, pemerintah tetap mengandalkan pasokan LPG dari Amerika Serikat yang saat ini menyumbang sekitar 60 persen dari total impor LPG Indonesia, atau sekitar 7 juta ton per tahun.
Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan pasokan minyak mentah dari Rusia telah diamankan. Kesepakatan tersebut merupakan hasil komunikasi tingkat tinggi antara pemerintah Indonesia dan Rusia.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Melonjak Capai US$140, Tertinggi Sejak 2008!
Langkah ini diambil sebagai respons atas tingginya konsumsi energi nasional yang mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, jauh melampaui produksi domestik yang hanya berkisar 600 ribu barel per hari. Kondisi ini membuat Indonesia masih harus mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari.
Pemerintah pun terus memperluas sumber pasokan dari berbagai negara guna menjaga stabilitas energi nasional.
Pengamat migas Hadi Ismoyo menilai kerja sama dengan Rusia memiliki keunggulan dari sisi harga. Minyak Rusia dinilai lebih kompetitif, dengan selisih sekitar 10 hingga 13 dolar AS per barel di bawah harga acuan global Brent.
Selain itu, kapasitas produksi Rusia yang besar dinilai mampu menjamin keberlanjutan pasokan dalam jangka panjang.
Dengan strategi diversifikasi sumber energi ini, pemerintah berharap ketahanan energi nasional tetap terjaga di tengah tingginya kebutuhan dan dinamika pasar global.
(Republika)












