Israel, mu4.co.id – Ribuan warga Israel menggelar aksi di Tel Aviv untuk mendesak para pemimpin oposisi memanfaatkan 67 kursi di Knesset (parlemen) untuk melengserkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan koalisinya.
Jumlah tersebut mencakup blok partai yang dipimpin warga Palestina-Israel dengan 19 kursi. Dukungan blok ini dinilai penting bagi Gadi Eisenkot dan partai-partai oposisi lainnya jika ingin membentuk pemerintahan tanpa melibatkan Netanyahu.
Dalam aksi yang berlangsung emosional itu, warga berharap para pemimpin oposisi mendengarkan aspirasi mereka dan mewujudkan perubahan politik.
Di sisi lain, pendukung sayap kanan Netanyahu juga menggelar aksi protes. Mereka menolak pembentukan pemerintahan yang melibatkan pihak-pihak yang dianggap sebagai teroris. Di kalangan sayap kanan, keterlibatan warga Palestina-Israel dalam pemilu bahkan disebut sebagai “terorisme elektoral” dan disamakan dengan serangan 7 Oktober 2023.
Baca Juga: Hasil Exit Poll Pemilu Israel, Koalisi Jadi Penentu Pemerintahan Baru
Sementara itu, pemimpin Joint List, Tibi, menyatakan bersedia berkoalisi dengan pihak mana pun yang ingin menyingkirkan Netanyahu. Koalisi tiga faksi Arab tersebut meraih 11 kursi dalam pemilu pada Selasa lalu.
“Kami ingin membantu siapa pun yang berkeinginan untuk menjatuhkan pemerintahan yang buruk ini… dan menggantinya dengan pemerintahan yang berbeda. Kami ingin menjadi bagian dari perbaikan, bagian dari harapan,” ujar Tibi dikutip dari Republika, Senin (2/11).
“Kami tidak akan menjadi bagian dari pemerintahan. Saya tidak menginginkan jabatan menteri. Saya tidak ingin duduk di dalam kabinet. Namun, tanpa partai-partai Arab, perubahan tidak akan terjadi,” sambungnya.
Baca Juga: Ribuan Warga Israel Gelar Demo Besar-besaran, Tuntut Turunkan Netanyahu dari Perdana Menteri
Sebelumnya, kubu anti-Netanyahu menguasai 67 dari 120 kursi Knesset, termasuk 19 kursi dari dua partai Arab. Jumlah tersebut cukup untuk membentuk mayoritas, namun masih terkendala penolakan sejumlah partai oposisi Yahudi untuk berkoalisi dengan faksi Arab.
Tibi menilai tingginya partisipasi pemilih Arab dan perolehan kursi mereka membuat Netanyahu sulit membentuk pemerintahan. Ia juga menyebut dukungan tersebut sebagai upaya melawan koalisi Netanyahu.
Joint List berencana merekomendasikan kandidat oposisi, yakni kemungkinan Gadi Eisenkot, kepada Presiden Israel Isaac Herzog untuk membentuk pemerintahan.
Mereka juga mendukung upaya mengganti Ketua Knesset Amir Ohana dan membentuk komisi penyelidikan negara terkait serangan 7 Oktober 2023. Kedua langkah itu menjadi agenda blok anti-Netanyahu setelah pelantikan anggota Knesset pada 10 November 2026.
(Republika)














