Jakarta, mu4.co.id – Penggunaan AI sebagai acuan pengobatan mandiri di rumah tanpa resep dokter (swamedikasi) menjadi tantangan di Indonesia.
Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menyebut sebagian masyarakat bahkan menjadikan AI sebagai dokter pribadi, bukan sekadar asisten. Padahal, jawaban AI berasal dari rangkuman berbagai informasi di internet dan belum tentu tepat untuk dijadikan dasar pengobatan.
“Betul bahwa tidak seluruh informasi yang di AI itu benar, karena AI kan menggunakan algoritme berdasarkan berita-berita yang muncul secara online, terus dia cover, iya kan? Kecuali kalau bisa dikontrol oleh Meta misalnya, dengan aturan-aturan tersendiri,” ungkap Taruna dikutip dari Tirto.id, Senin (2/11).
Taruna mengatakan aturan peredaran obat diterapkan untuk mencegah masyarakat salah mengonsumsi obat berdasarkan informasi nonmedis. BPOM juga menyosialisasikan barcode pada kemasan agar masyarakat dapat mengetahui kandungan obat dan menyesuaikannya dengan keluhan yang dialami.
“Dan kita kerja sama dengan Kementerian Kesehatan juga mengatur yang disebut dengan sistem satu sehat. Bahkan kita sekarang sudah login kita sistemnya, kita satukan dengan khususnya di Satu Sehat itu bersama dengan Direktorat Jenderal Alat Kesehatan dan Farmasi,” terangnya.
Taruna menilai edukasi swamedikasi masih diperlukan. Sebab, banyak masyarakat baru memeriksakan diri ke dokter setelah keluhan yang dialami semakin parah.
“Sakit kepala, oh cari mungkin ini obat ini. Itu kenyataannya. Dia flu sedikit, dia ini. Nanti betul-betul sudah tidak bisa ditahan, baru 20%-nya ini ke dokter. Nah, apa dampaknya? Karena seperti itu, biasanya karena dia sudah tidak bisa tahan, biasanya yang 20% ini sudah agak-agak gawat,” ujar Taruna.
Taruna menyebut praktik swamedikasi di Indonesia meningkat dalam tiga tahun terakhir. Saat ini, sekitar 80 persen masyarakat memilih mengobati diri sendiri.
(Tirto.id)













