Bandung, mu4.co.id – Tiga mahasiswa Mikrobiologi 2022 Institut Teknologi Bandung (ITB) meraih juara 1 nasional kategori Industry Case Analysis Competition (I-CAC) pada ajang I-CHALLENGE 2026 pada Ahad (10/5).
Tim “SULE” yang beranggotakan Malika Fatima Lawe, Rufaida Khairina, dan I Dewa Ayu Andina Angelia menghadirkan inovasi pemanfaatan limbah padat batu bara untuk bahan baku baterai lithium-ion. Selain itu, Malika juga meraih penghargaan Best Presenter pada ajang tersebut.
Kompetisi yang mengangkat tema “Optimization of Green Process through Circular Resources towards Regenerative Future” tersebut diikuti sekitar 300 tim, dengan hanya 10 tim yang lolos ke babak final.
Tim SULE menghadirkan inovasi pemanfaatan limbah padat batu bara bernama “FABA-Derived Silica and Alumina for Lithium-Ion Battery Anode and Separator Coating as a Renewable Energy Storage Solution in Indonesia” dari PT PLN NP UP Paiton yang menjadi bahan baku anoda silikon-karbon dan lapisan keramik baterai lithium-ion.
Melalui metode manufaktur sirkular terintegrasi, inovasi ini menawarkan solusi penyimpanan energi yang ramah lingkungan, ekonomis, dan aman guna mendukung target Net Zero Emission 2060.
“Kami memilih topik ini karena berhasil menghubungkan krisis limbah industri hulu dan urgensi kemandirian teknologi renewable energy di hilir. FABA memiliki kandungan silika 20–24% dan alumina 19–28%, sehingga berpotensi menggantikan bahan impor,” ungkap Malika dikutip dari laman ITB, Rabu (20/5).
Babak final lomba berlangsung selama tiga hari melalui sesi pitching, pameran poster, dan tanya jawab dengan juri dari kalangan akademisi serta industri.
Baca Juga: Guru Palangka Raya Ini Jadi Finalis Nasional Berkat Inovasi Pendidikan Digital!
Dalam pengembangan inovasinya, tim menerapkan berbagai metode ekstraksi untuk menghasilkan anoda berkapasitas tinggi dan separator baterai yang stabil hingga 200°C.
Tim SULE menilai inovasi ini berpotensi mengolah 1 juta ton limbah FABA, menekan ketergantungan impor bahan baku baterai, serta mengurangi emisi karbon hingga 52,46% per tahun. Teknologi tersebut juga dinilai mampu memperluas akses listrik bersih yang aman dan terjangkau, terutama di wilayah 3T.
“Harapan kami, inovasi ini tidak hanya berhenti sebagai laporan kompetisi, tetapi implementasi roadmap mulai dari riset MVP 2026 hingga komersialisasi pabrik 2027 dapat direalisasikan oleh PLN Nusantara Power dan Indonesia Battery Corporation (IBC) sebagai solusi substitusi material impor yang bernilai tinggi,” ujar Rufaida.
(Institut Teknologi Bandung)















