Jakarta, mu4.co.id – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) tahun ini menunjukkan tingkat partisipasi yang sangat tinggi.
Program evaluasi akademik yang diterapkan pemerintah tersebut diikuti oleh lebih dari 98 persen siswa di seluruh Indonesia, meski pelaksanaannya tidak bersifat wajib.
Hal itu disampaikan Mu’ti saat memberikan keterangan pada Ahad (17/5/2026). Ia menjelaskan, tingginya angka partisipasi menunjukkan antusiasme sekolah dan siswa terhadap TKA sebagai salah satu instrumen pengukuran kemampuan akademik nasional.
Baca juga: TKA Kini Diperlukan Sebagai Syarat Masuk Sekolah Favorit!
Meski demikian, Mu’ti menegaskan bahwa TKA bukan menjadi penentu kelulusan siswa. Menurutnya, kelulusan tetap ditetapkan oleh masing-masing satuan pendidikan berdasarkan hasil ujian sekolah dan nilai rapor siswa.
“TKA tidak menjadi penentu kelulusan karena kelulusan itu ditetapkan oleh masing-masing satuan pendidikan melalui tes yang diselenggarakan dan melalui nilai rapot yang semuanya dibuat oleh masing-masing satuan pendidikan,” ujarnya dilansir dari detik, Selasa (19/5).
Ia menambahkan, fungsi utama TKA lebih diarahkan sebagai penunjang siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, terutama dalam proses seleksi masuk perguruan tinggi.
Baca juga: Tes Kemampuan Akademik dan Asesmen Nasional untuk SD dan SMP Digabung Mulai 2026, Apa Dampaknya?
Bahkan, kata Mu’ti, sejumlah perguruan tinggi mulai menjadikan hasil TKA sebagai salah satu syarat administrasi penerimaan mahasiswa baru. Tidak hanya di dalam negeri, salah satu kampus di Belanda juga disebut meminta pelamar asal Indonesia melampirkan hasil TKA.
Di sisi lain, Mu’ti mengakui capaian nilai TKA siswa secara nasional masih belum maksimal. Pemerintah pun akan melakukan evaluasi dan perbaikan agar kualitas pendidikan nasional terus meningkat.
“Memang ada realitas di mana capaian nilai TKA belum tinggi sebagaimana kita harapkan. Tapi itu bukan akhir dari segalanya. Itu justru menjadi awal untuk kita berbenah mengevaluasi dan meningkatkan mutu pendidikan dengan berbagai langkah dan strategi,” tuturnya.
(detik)














