Media Utama Terpercaya

4 Juni 2026, 15:47
Search

Kolaborasi Lintas Sektor, Green Nasyiah PWNA Kalsel Gelar “Ekspedisi Rambai” Susur Sungai dari 0 Km hingga Pasar Terapung Lok Baintan

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Green Nasyiah PWNA Kalsel Gelar "Ekspedisi Rambai" Susur Sungai
Green Nasyiah PWNA Kalsel Gelar "Ekspedisi Rambai" Susur Sungai [Foto: mu4.co.id/ afiliasi]

Banjarmasin, mu4.co.id – Green Nasyiah Pimpinan Wilayah Nasyiatul ‘Aisyiyah Kalimantan Selatan (PWNA Kalsel) bersama Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Biologi Madrasah Aliyah se-Kota Banjarmasin serta Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Banjarmasin, menggelar kegiatan Susur Sungai bertajuk “Ekspedisi Rambai,” Ahad (31/05/2026).

Aksi nyata pelestarian lingkungan tersebut mengambil rute susur sungai dimulai dari titik 0 Km hingga berakhir di ikon wisata budaya, Pasar Terapung Lok Baintan, Kabupaten Banjar, yang menyuguhkan pemandangan langsung tentang kondisi vegetasi tepian sungai saat ini.

Ekspedisi ini bukan sekadar aktivitas rekreasi air, melainkan sebuah gerakan edukasi, observasi ilmiah, dan advokasi pelestarian ekosistem sungai yang berfokus pada tanaman khas tepian sungai, yaitu Rambai. Selain itu, para peserta yang terdiri dari anggota Nasyiatul Aisyiyah, dosen, guru, dan mahasiswa ini juga melakukan aksi membagikan brosur terkait pengelolaan sampah titik-titik tertentu.

Baca juga: Momentum Titik Balik: PWNA Kalsel Gelar Musykerwil Hybrid, Serukan Sinergi Pergerakan Hingga Akar Rumput

Ketua Green Nasyiah PWNA Kalsel, Wahyunah, S.Si., M.Pd.  menyatakan bahwa Ekspedisi Rambai merupakan bentuk ikhtiar kami menutup bulan Mei dengan karya. “Kami ingin mengembalikan narasi bahwa sungai bukan sekadar jalur transportasi atau tempat pembuangan, melainkan nadi kehidupan. Dengan melibatkan pelajar dan akademisi, kami berharap literasi ekologis generasi muda Kalsel semakin kuat,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan dari MGMP Biologi Madrasah Aliyah se-Kota Banjarmasin Minasari, M.Pd menekankan aspek edukatif dari kegiatan ini adalah laboratorium alam yang luar biasa. “Sebagai guru kita tidak hanya mengajarkan teori biologi di dalam kelas, tetapi langsung turun ke lapangan mengamati morfologi dan sebaran rambai, serta memahami interaksi antarorganisme di ekosistem sungai secara empiris,” tuturnya.

Sementara itu, dari sisi kesehatan masyarakat, perwakilan dosen  FKIK Universitas Muhammadiyah Banjarmasin Ica Lisnawati, Ns.,M.Kep menambahkan bahwa Pendekatan promotif dan preventif dalam kesehatan tidak hanya dilakukan melalui pelayanan kesehatan, tetapi juga melalui perlindungan ekosistem.

“Ketika sungai terjaga, kualitas air membaik, keanekaragaman hayati tetap lestari, dan masyarakat memperoleh manfaat kesehatan secara langsung maupun tidak langsung. Inilah wujud nyata implementasi konsep One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, lingkungan, dan keberlanjutan sumber daya alam,” ungkapnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk menjadikan sungai sebagai ruang hidup yang harus dijaga bersama. “Membangun kesadaran untuk tidak membuang sampah ke sungai, menjaga vegetasi tepian sungai, dan memanfaatkan sumber daya alam secara bijak merupakan langkah sederhana yang dapat memberikan dampak besar bagi kesehatan generasi sekarang maupun generasi mendatang,” tambahnya.

Baca juga: PWNA Kalsel Gelar Seminar Nasional Berlangsung Meriah, Gaungkan Pencegahan Kekerasan Seksual!

Adapun dalam ekspedisi ini, tanaman rambai (Barringtonia acutangula (L.) Gaertn.) diangkat sebagai simbol dan objek utama konservasi. Secara botanis, rambai adalah tanaman riparian (tumbuhan tepian sungai) atau freshwater mangrove yang sangat adaptif di daerah rawa air tawar, bantaran sungai, dan muara. Adapun secara ekologis, rambai memegang peranan yang sangat krusial dan komprehensif dalam menopang kesehatan sungai:

Pertama, sebagai Pengendali Abrasi dan Stabilisasi Tanah: Sistem perakaran rambai yang kuat dan menjalar berfungsi sebagai penahan tanah alami, mencegah erosi dan longsor di bantaran sungai, terutama saat debit air tinggi atau musim hujan.

Kedua, sebagai Bioindikator dan Biofilter Kualitas Air: Rambai memiliki kemampuan menyerap polutan dan logam berat dari air sungai. Keberadaan rambai yang tumbuh subur secara alami menjadi indikator biologis (bioindicator) bahwa kualitas air di wilayah tersebut masih relatif baik dan mendukung kehidupan.

Ketiga, Penopang Rantai Makanan (Food Web): Bunga rambai yang mekar di malam hari menarik perhatian kelelawar dan ngengat sebagai penyerbuk. Sementara itu, buahnya yang jatuh ke permukaan air menjadi sumber pakan alami yang kaya nutrisi bagi berbagai spesies ikan, udang, dan biota air lainnya, sehingga secara langsung mendukung produktivitas perikanan Sungai.

Keempat, sebagai kearifan lokal banjar: Dalam khazanah masyarakat Banjar, keberadaan rambai di tepian sungai atau tatah (permukiman tepi sungai) telah lama menjadi penanda wilayah hunian yang sehat dan selaras dengan alam. Tanaman ini adalah bagian tak terpisahkan dari identitas ekokultural Kalimantan Selatan yang kini terancam oleh alih fungsi lahan dan pencemaran.
Kegiatan Ekspedisi Rambai ini dirancang sebagai implementasi nyata dari konsep One Health (Satu Kesehatan), yang menekankan bahwa kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan ekosistem saling berkaitan erat.

Kegiatan Ekspedisi Rambai itupun diharapkan menjadi pemantik bagi pemangku kebijakan dan masyarakat luas untuk lebih serius dalam melindungi vegetasi asli tepian sungai. Kolaborasi antara organisasi keagamaan, dunia pendidikan, dan institusi kesehatan ini membuktikan bahwav menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama yang memerlukan pendekatan lintas disiplin ilmu.

[post-views]
Selaras