Jakarta, mu4.co.id – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) resmi mengumumkan susunan kepengurusan masa khidmah 2026-2031 di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Rabu (30/9/2026) malam.
Pengumuman tersebut dihadiri Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Katib Aam PBNU Prof KH Mohammad Nuh, Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), serta Sekjen PBNU Gudfan Arif.
Susunan lengkap pengurus tercantum dalam SK PBNU Nomor 2/PB.01/A.II.01.01/99/09/2026, yang meliputi jajaran Mustasyar, Pengurus Harian Syuriyah, A’wan, hingga Pengurus Harian Tanfidziyah.
Dari ratusan nama yang diumumkan, terdapat beberapa tokoh asal Kalimantan Selatan yang berhasil masuk dalam jajaran pengurus pusat tersebut.
Tokoh Kalsel tersebut yakni KH. Wildan Salman (Mustasyar), Prof. Artani Hasbi – Kepala Kanwil Departemen Agama Provinsi Kalimantan Selatan 2001-2006 (Mustasyar), H. Sahbirin Noor atau Paman Birin (A’wan), Prof Dr Muhammad Madyan – Rektor Universitas Airlangga (UNAIR) periode 2025-2030 (A’wan) serta KH. Syarbani Haira (Tanfidziyah sebagai Ketua).
Masuknya mantan Gubernur Kalsel dua periode, Sahbirin Noor (Paman Birin), menjadi perhatian publik karena dipercaya mengisi jajaran A’wan PBNU bersama Gubernur Kalteng H. Agustiar Sabran.
Baca juga: Muktamar ke-35 NU Tetapkan KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan Gus Kikin sebagai Ketum PBNU
Menanggapi keterwakilan Kalsel di level pusat tersebut, KH. M. Syarbani Haira memberikan pandangan positifnya.
“Positif lah, memang sebenarnya harus lebih banyak dari 4 orang itu,” ujarnya dilansir dari Jejakrekam, Kamis (1/10/2026).
Mantan Ketua PWNU Kalsel ini menilai idealnya ada tokoh Kalsel di unsur Ketua dan Sekretaris guna mengalokasikan aspirasi wilayah, terlebih IKN di Kalimantan akan mulai beroperasi penuh pada 2028.
“Jadi kalau dari Kalsel hanya 4 yang masuk kita hargai untuk perwakilan pusat,” ujarnya.
Syarbani menambahkan bahwa dirinya dan Prof. Artani Hasbi sebelumnya juga pernah dipercaya menjadi pengurus PBNU saat Muktamar di Lampung.
“Memang sangat wajar orang daerah harus masuk kepengurusan PBNU, kalau dari daerah tidak masuk, PBNU tidak akan tahu program-program atau agenda-agenda apa dari PBNU,” ujarnya.
Baca juga: Pakar Ilmu Manajemen Kelahiran Martapura Ini Terpilih Menjadi Rektor UNAIR 2025-2030!
Ia menekankan keterwakilan daerah sangat penting agar PBNU memahami permasalahan riil masyarakat di lapangan.
“Kita kan banyak pulau, ada Pulau Sulawesi, Sumatera tapi yang terbanyak masuk di kepengurusan itu dari Jawa, tapi kita tetap merespon positif,” ujarnya.
“Saya sendiri mungkin karena saya pernah jadi Ketua PWNU Kalsel sehingga diperlukan lagi dan diharapkan berkontribusi dan bukan sekedar pengurus,” tambahnya.
Mengenai bergabungnya Paman Birin dan Agustiar Sabran di jajaran A’wan PBNU, Syarbani menilai keberadaan para mantan dan pejabat daerah tersebut sangat strategis sebagai dewan pakar penghubung daerah dan pusat.
“Kalau Paman Birin berkecimpung di NU itu luar biasa, Beliau mantan gubernur tahu masalah keadaan daerah, nanti disampaikan ke forum NU, akan berbuat apa untuk membangun Kalsel dan Kalimantan secara umum, apalagi di situ ada Agustiar Sabran Gubernur Kalteng, menurut saya sangat positif saja,” pungkasnya.
Berikut susunan Mustasyar dan A’wan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026–2031:
MUSTASYAR
- KH Ahmad Mustofa Bisri
- Prof KH Ma’ruf Amin
- H M Jusuf Kalla
- KH M Anwar Manshur
- TGK KH Nuruzzahri Yahya
- AGH Baharuddin HS
- TGH LM Turmudzi Badaruddin
- KH Taufiqurrahman Subki
- Prof KH Said Aqil Siroj
- Nyai Hj Shinta Nuriyah A. Wahid
- Nyai Hj Machfudhoh Aly Ubaid
- dr KH Umar Wahid
- KH Abd Matin Djawahir
- KH Fuad Nurhasan
- KH Muhtadi Dimyathi
- KH Ulin Nuha Arwani
- KH Irfan Yusuf
- KH Idris Hamid
- KH Abdul Ghofur
- KH Wildan Salman
- KH Jirjis Ali Maksum
- KH As’ad Said Ali
- KH Ali Akbar Marbun
- Prof Artani Hasbi
- AGH Habib Abdurrahim Assegaf
- KH Muhammad Nuh Ad-Dawami
- KH Abdullah Ubab Maimoen
- KH Zakky Mubarok
- KH Mustafa Bakri Nasution
- Muhammad A.S. Hikam
- Prof KH Masykuri Abdillah
- Prof Moh Mahfud MD
- Nyai Hj Hizbiyah Rochim
A’WAN PBNU
- Prof TGH Masnun Tahir
- Ny Dra Hj Khofifah Indar Parawansa
- Habib Ahmad Edrus Al Habsyi
- KH Fatahillah
- KH Yusuf Chudori
- KH Mu’tashim Billah
- KH Abdussalam Shohib
- KH Nur Taufiq Sanusi
- Hj Badriyah Fayumi
- Nyai Hj Ida Fatimah Zainal
- H Nusron Wahid
- KH Ahmad Ma’sum Abror
- H Masduki Baidlowi
- H Misbahul Ulum
- KH Abdul Muhaimin
- H Herman Deru
- H Agustiar Sabran
- KH Hambali Ilyas
- Dr H Ahmad Roziqi
- H Sahbirin Noor
- H Hilmi Ali Yafie
- KH Masyhur Syihab
- KH Muhajirin Yanis
- Prof Ir Eduart Wolok
- Prof Suharnomo
- Prof Muhammad Madyan
- H Endin A.J. Soefihara
- KH Musyaffa’ Fauzi
- H Nasyirul Falah Amru
- H Andi Sahibuddin
- H Robikin Emhas
- Prof H Sumper Mulia Harahap
- Prof Asasriwarni
- H Adib Fuad














