Banjarmasin, mu4.co.id – Ustaz Muhammad Kamal Ihsan, Lc., M.A. mengisi kajian khusus ba’da Subuh di Masjid Al Jihad Banjarmasin pada Ahad (5/7). Ustaz Kamal sendiri merupakan Pimpinan Pondok Pesantren Insan Utama Yogyakarta yang juga Juara 2 Akademi Sahur Indonesia (AKSI) Indosiar 2026.
Dalam kajiannya, ia mengingatkan umat Islam agar tidak lalai mensyukuri nikmat yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Menurutnya, banyak orang sibuk mengejar cita-cita dan urusan dunia, tetapi justru lupa mensyukuri nikmat dasar yang telah Allah berikan.
Menurutnya, rasa syukur harus dimulai dari hal-hal yang melekat dalam kehidupan, seperti nikmat iman, Islam, kesehatan, hingga kesempatan beribadah.
“Kita perlu memulai rasa syukur kita kepada Allah dengan apa yang melekat pada kita, nikmat iman, nikmat islam, nikmat mampu kita melakukan ketaatan kepada Allah, nikmat mampu kita bernafas, Allah berikan kita kesehatan, detak jantung yang sampai saat ini masih terus berdetak dalam ketaatan kepada Allah. Semua hal ini adalah hal-hal yang dekat dengan kita tapi sering kita lewatkan, sering kita lupakan,” ujar Ustaz Kamal.
Ustaz Kamal mengajak jemaah mensyukuri kemudahan beribadah yang dinikmati saat ini, umat Islam saat ini tidak menghadapi ujian seberat para generasi awal yang harus mempertaruhkan nyawa. Ia juga mengingatkan agar tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama, melainkan sekadar tempat singgah untuk mempersiapkan bekal menuju akhirat.
“Dunia yang kita tinggali hanyalah tempat transit. Cukup kita genggam di tangan, jangan sampai masuk ke dalam hati. Jadikan dunia sebagai wasilah untuk mendekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia membahas pentingnya menyeimbangkan khauf (rasa takut kepada Allah) dan raja’(harap kepada rahmat Allah). Menurutnya, keduanya ibarat dua sayap burung yang harus sama-sama kuat agar seorang mukmin dapat istiqamah dalam beribadah.
Rasa takut, bukan hanya muncul setelah berbuat dosa, tetapi juga setelah melakukan amal saleh. Seorang mukmin hendaknya tetap khawatir amalnya tidak diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga terhindar dari sifat sombong dan merasa paling baik.
Di sisi lain, seorang mukmin juga harus memiliki harapan kepada rahmat Allah. Sebab, keselamatan di akhirat bukan semata-mata karena banyaknya amal, melainkan karena kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.
Ustaz Kamal menegaskan bahwa sebanyak apa pun amal seseorang, keselamatan di akhirat tetap bergantung pada rahmat Allah. Ia mengutip hadis Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menyebutkan bahwa:
“Tidak ada amalan seorang pun yang bisa memasukkannya ke dalam surga, dan menyelematkannya dari neraka. Tidak juga denganku, kecuali dengan rahmat dari Allah,” (HR Muslim)
Meski demikian, Ustaz Kamal mengingatkan agar harapan terhadap rahmat Allah tidak membuat seseorang bermalas-malasan dalam beribadah. Seorang Muslim tetap harus berlomba-lomba dalam kebaikan, karena derajat surga ditentukan oleh kualitas amal yang dilakukan selama hidup di dunia.
Di akhir ceramahnya, ia mengajak jemaah memanfaatkan setiap kesempatan untuk beramal saleh. Menurutnya, manusia tidak pernah tahu kapan ajal akan datang, sehingga setiap ibadah hendaknya dilakukan dengan sungguh-sungguh, seolah menjadi ibadah terakhir sebelum menghadap Allah.
“Salatlah seakan-akan itu adalah salat terakhir yang bisa kita lakukan. Dengan begitu, kita akan lebih khusyuk dan memaksimalkan setiap amal yang kita kerjakan,” ucapnya.













