Media Utama Terpercaya

26 Agustus 2026, 01:50
Search

Terdampak Kabut Asap Karhutla, Malaysia Tutup Hampir 600 Sekolah di Wilayah Perbatasan Indonesia

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Malaysia Tutup Hampir 600 Sekolah di Wilayah Perbatasan Indonesia [Foto: BBC]

Jakarta, mu4.co.id – Malaysia menutup hampir 600 sekolah di Negara Bagian Sarawak, imbas kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Indonesia, Jumat (21/08/2026).

Jabatan Pendidikan Negeri (JPN) Sarawak menginstruksikan penghentian sementara pembelajaran tatap muka di wilayah Kuching, Samarahan, Serian, Sri Aman, dan Betong, untuk mengantisipasi dampak kesehatan terhadap anak. Adapun wilayah terdampak paling parah adalah Serian, yang berbatasan langsung dengan wilayah Kalimantan Barat, Indonesia.

“Berlaku efektif mulai 20 hingga 21 Agustus 2026. Penutupan ini melibatkan 509 sekolah dasar dengan 107.590 siswa dan 82 sekolah menengah dengan 89.733 siswa,” demikian pernyataan JPN Sarawak.

Berdasarkan data Sistem Pengelolaan Indeks Pencemaran Udara Malaysia (APIMS), indeks pencemaran udara (API) di di sejumlah wilayah mencapai angka 191 atau masuk dalam kategori “tidak sehat” dalam beberapa hari terakhir. Diketahui dalam sistem pengukuran Malaysia, API 0-50 dikategorikan baik, 51-100 sedang, 101-200 tidak sehat, 201-300 sangat tidak sehat, dan di atas 300 berbahaya.

Data APIMS juga menunjukkan sejumlah wilayah lain di Sarawak mencatatkan kualitas udara tidak sehat, yaitu Kuching (181), Samarahan (178), Sri Aman (174), dan Sarikei (171). Selain itu, Sibu mencatat API 160, sementara Samalaju, Bintulu, dan Mukah masing-masing 156, serta Miri sebesar 151. Sehari sebelumnya, API di Serian bahkan mencapai angka 239 yang masuk kategori sangat tidak sehat. Sejumlah distrik lain di Sarawak juga mencatat tingkat pencemaran tinggi.

Baca juga: Singapura Peringatkan Potensi Kabut Asap Jika Karhutla Indonesia Meluas

Sebelumnya, pada Kamis (20/08/2026), data satelit Fire Information for Resource Management System (FIRMS) milik NASA menunjukkan aktivitas kebakaran yang meluas di Kalimantan, Indonesia. Titik panas terpantau padat terutama di wilayah Indonesia yang berdekatan dengan perbatasan Sarawak.

Rentetan kejadian ini menandai persoalan kabut asap yang terus berulang. Menteri Sumber Daya Alam dan Kelestarian Lingkungan Malaysia, Arthur Joseph Kurup, mengatakan pemerintah Malaysia terus memantau kondisi kabut asap di Sarawak dan sejumlah wilayah Semenanjung Malaysia.

Pada 8-9 Juli lalu, Malaysia, Brunei Darussalam, Indonesia, Singapura, Thailand, dan Timor-Leste menggelar pertemuan di Bali untuk meninjau strategi pencegahan kebakaran hutan dan lahan yang menjadi penyebab utama polusi asap lintas batas. Kurup juga melakukan pertemuan dengan Menteri Lingkungan Hidup Indonesia guna mengoordinasikan penanganan titik panas. Menurutnya, berdasarkan Perjanjian ASEAN tentang Pencemaran Asap Lintas Batas (ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution/AATHP), status Siaga Tingkat 2 telah diaktifkan sejak 3 Agustus.

“Negara-negara anggota diwajibkan menyampaikan laporan harian mengenai langkah-langkah penanggulangan yang dilakukan,” ujar Kurup.

Sementara itu, Analisis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mengungkapkan bahwa sejak 1 Januari hingga 27 Juli 2026 terdapat 118.420 titik panas di seluruh Indonesia. Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan jumlah titik panas tertinggi, yakni 17.236 titik, dengan luas indikatif karhutla mencapai 28.680 hektare, dan secara keseluruhan Pulau Kalimantan mencatat 34.262 titik panas dengan luas indikatif karhutla mencapai 33.837 hektare.

Adapun temuan penting dalam analisis Walhi yaitu menunjukkan, 25.524 titik panas atau sekitar 74% dari total titik panas di Pulau Kalimantan berada di dalam kawasan konsesi perusahaan. Sebanyak 10.739 titik panas berada di dalam hak guna usaha perkebunan kelapa sawit, 7.880 titik panas di konsesi pertambangan, dan 6.905 titik panas berada di konsesi perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH).
(bbc.com)

[post-views]
Selaras