Media Utama Terpercaya

30 April 2026, 20:40
Search

Menteri PPPA Menyampaikan Permohonan Maaf Karena Usulannya Terkait Gerbong Kereta Khusus Wanita!

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Menteri PPPA menyampaikan permintaan maaf atas usulannya terkait gerbong kereta khusus wanita
Menteri PPPA menyampaikan permintaan maaf atas usulannya terkait gerbong kereta khusus wanita. [Foto: IG Kementerian PPPA]

Jakarta, mu4.co.id – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menyampaikan permintaan maafnya terkait penempatan gerbong khusus wanita di KRL yang sebelumnya memicu polemik di media sosial. Gagasan tersebut muncul sebagai respons atas insiden kecelakaan kereta di Bekasi yang seluruh korbannya merupakan perempuan.

Dalam keterangannya saat mengunjungi RSUD Dr Chasbullah Abdulmadjid, Selasa (29/4), Arifah mengusulkan agar gerbong wanita dipindahkan ke bagian tengah rangkaian. Ia menyebut perubahan posisi itu diharapkan dapat mengurangi risiko fatal jika terjadi kecelakaan. Selama ini, gerbong tersebut ditempatkan di posisi depan dan belakang untuk menghindari kepadatan penumpang.

“Tadi kita ngobrol dengan KAI itu kenapa gerbong wanita ditempatkan di bagian depan dan belakang supaya tidak terjadi rebutan tetapi dengan peristiwa ini kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan ditempatkan di bagian tengah, jadi yang laki di bagian depan dan belakang,” ujarnya dilansir dari Berita Satu, Kamis (30/4).

Baca juga: Kecelakaan Kereta Api dan KRL di Stasiun Bekasi Timur. Ini Kronologinya!

Namun, pernyataan tersebut langsung menuai beragam reaksi dari warganet. Banyak yang menilai solusi tersebut tidak menyentuh akar persoalan keselamatan transportasi.

Sejumlah komentar di media sosial menyebut gagasan itu hanya memindahkan risiko, bukan menghilangkannya. Ada pula yang mempertanyakan relevansi kebijakan tersebut dengan upaya peningkatan keselamatan secara menyeluruh.

“Yang lebih gila lagi, itu menteri PPPA. Dia bilang posisi gerbong kereta khusus wanita dipindah dari belakang ke tengah. Boss! Itu bukan solusi woi, Anda cuma ganti tumbal. Ngadi-ngadi Anda. Mundur aja mendingan daripada cuma bisa ngasih omon-omon aja biar keliatan kerja,” tulis @MariaStancya.

“Sepertinya dia tidak pernah naik KRL. Ini namanya memindahkan masalah bukan memecahkan masalah,” kata 5tePh3n di akun @P3gEl.

Baca juga: Uji Coba Perdana Biodiesel B50 di Kereta Api Dimulai, Indonesia Jadi yang Pertama di Dunia

Kritik juga datang dari kalangan publik figur. Gilang Dirga menilai pernyataan tersebut berpotensi menimbulkan persepsi bahwa keselamatan laki-laki dianggap kurang penting. Ia menyebut pendekatan semacam itu tidak mencerminkan prinsip keadilan dalam perlindungan semua penumpang.

“Seolah-olah di mata Anda laki-laki tidak berharga. Berarti menurut saya Anda sudah menyinggung beberapa pihak. Laki-laki. yang Anda anggap tidak berharga karena statement tersebut seolah mengatakan ‘Laki-laki tidak apa-apa jadi korban, yang penting perempuan aman’,” tulis Gilang.

Perdebatan ini mencerminkan kekhawatiran masyarakat terhadap kebijakan yang dinilai belum menyentuh solusi mendasar. Banyak pihak menilai peningkatan sistem keselamatan dan pengawasan operasional kereta jauh lebih penting daripada sekadar mengatur posisi gerbong penumpang.

(Berita Satu)

[post-views]
Selaras