Iran, mu4.co.id – Upaya meredakan konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel kembali menemui jalan buntu. Teheran diketahui telah mengajukan proposal perdamaian komprehensif berisi 14 poin, namun langsung ditolak oleh Presiden AS, Donald Trump.
Mengutip laporan Anadolu Agency, Senin (4/5), proposal tersebut diserahkan Iran kepada Pakistan sebagai mediator pada 30 April 2026. Dalam dokumen itu, Iran mendorong penyelesaian konflik secara cepat dengan target waktu 30 hari, berbeda dengan usulan AS yang menawarkan gencatan senjata selama dua bulan.
Sejumlah tuntutan utama yang diajukan Iran mencakup jaminan tidak adanya agresi militer di masa depan, penarikan pasukan AS dari kawasan sekitar Iran, serta penghentian blokade laut yang selama ini membatasi aktivitas negara tersebut.
Selain itu, Iran juga meminta pencairan aset yang dibekukan di luar negeri, pencabutan sanksi ekonomi, hingga pembayaran kompensasi atas kerusakan akibat serangan militer. Teheran bahkan mengusulkan pembentukan mekanisme baru dalam pengelolaan Selat Hormuz guna menjamin keamanan jalur pelayaran energi global.
Baca juga: Donald Trump Perpanjang Gencatan Senjata AS–Iran Tanpa Batas Waktu, Blokade Hormuz Tetap Berlaku!
Tak hanya itu, proposal tersebut juga menyinggung penghentian konflik di berbagai front, termasuk kawasan Lebanon, sebagai bagian dari upaya perdamaian yang lebih luas.
Namun, dalam wawancara dengan KAN News, Donald Trump menegaskan bahwa proposal Iran tidak dapat diterima. Penolakan ini terutama dipicu oleh belum terpenuhinya syarat utama yang diinginkan Washington, khususnya terkait isu nuklir.
Sebelumnya, menurut laporan kantor berita Tasnim News Agency, AS sempat mengajukan proposal tandingan yang terdiri dari sembilan poin, termasuk tawaran gencatan senjata selama dua bulan. Namun Iran menilai pendekatan tersebut tidak cukup untuk mengakhiri konflik secara menyeluruh.
Sementara itu, Al Jazeera melaporkan bahwa rencana perdamaian Iran kemungkinan disusun dalam tiga fase, meskipun rincian lengkapnya belum dipublikasikan secara resmi.
Baca juga: 3 Kapal Induk AS Akan Kepung Iran, Teheran Ancam Tenggelamkan Armada di Selat Hormuz
Konflik antara Iran dan AS bersama Israel sendiri memanas sejak 28 Februari 2026, ketika serangan militer dilancarkan ke wilayah Iran dan menewaskan lebih dari 3.000 orang. Iran kemudian merespons dengan menyerang kepentingan sekutu AS di kawasan.
Upaya gencatan senjata sempat tercapai pada 8 April melalui mediasi Pakistan dan dilanjutkan dengan perundingan di Islamabad. Namun hingga kini, negosiasi belum membuahkan kesepakatan akhir.
Di tengah situasi tersebut, AS justru meningkatkan tekanan dengan memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran, yang berdampak pada distribusi minyak dunia serta stabilitas ekonomi global
(Tribunnews, suarasurabaya.net, Anadolu Agency, Tasnim News Agency, Al Jazeera)













