Israel, mu4.co.id – Ledakan mikroalga sepanjang beberapa kilometer di Laut Tengah membuat lima dari enam instalasi desalinasi pesisir Israel berhenti beroperasi sementara pada Ahad. Kondisi ini mengancam pasokan utama air minum negara tersebut.
Ledakan mikroalga adalah peningkatan jumlah alga mikroskopis secara cepat dalam waktu singkat. Kondisi ini dapat menurunkan kadar oksigen di air saat alga mati dan membusuk, sehingga memicu kematian ikan dalam jumlah besar. Beberapa jenis mikroalga juga dapat menghasilkan racun yang berbahaya bagi manusia dan hewan.
Menurut perusahaan air nasional Israel, Mekorot, sejumlah fasilitas yang dikelola swasta mulai kembali beroperasi secara terbatas. Namun, hingga Kamis, baru satu instalasi yang kembali bekerja dengan kapasitas penuh.
Baca Juga: Baru Selesai Bencana Kebakaran Besar, Kini Israel Diterjang Banjir Hingga Tutup Jalan Utama!
“Peristiwa semacam ini belum pernah terjadi sebelumnya di Israel… ini adalah kejadian yang sangat langka,” terang Juru Bicara Mekorot, Lior Gutman, dikutip dari Republika, Selasa (8/9).
Kondisi ini cukup mengkhawatirkan karena Israel sangat bergantung pada teknologi desalinasi untuk memenuhi kebutuhan air minum. Sebagai wilayah yang relatif gersang dengan curah hujan terbatas dan tanpa sungai besar, teknologi tersebut menjadi salah satu andalan utama pasokan air Israel.
Saat ini, desalinasi memenuhi sedikitnya 65 persen kebutuhan air minum Israel. Sebagian besar fasilitasnya berada di sepanjang pesisir Laut Tengah.
Baca Juga: Indonesia Bersama 7 Negara Muslim Kecam Penolakan Israel atas Rencana Damai Gaza
Masalah mulai muncul pada akhir pekan setelah terjadi kontaminasi di sejumlah titik sepanjang garis pantai Israel. Profesor Universitas Ben-Gurion, Edo Bar-Zeev, bersama sejumlah ilmuwan kemudian menemukan bahwa penyebabnya adalah mikroalga yang berkembang biak dengan cepat.
Menurut Bar-Zeev, ledakan mikroalga tersebut membentang lebih dari belasan mil. Fenomena itu diduga berasal dari Delta Nil dan terbawa arus laut ke utara hingga mencapai pesisir Israel. Ia menyebut kejadian tersebut sebagai fenomena terbesar yang pernah dilihatnya selama 20 tahun meneliti perairan pesisir.
“Kali pertama saya melihat fenomena sebesar ini,” ungkap Bar-Zeev.
(Republika)















