Media Utama Terpercaya

8 September 2026, 09:04
Search

Mengapa Abu Vulkanik Anak Krakatau Berbahaya bagi Pesawat? Begini Penjelasan Ahli!

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Abu vulkanik
Abu Vulkanik Anak Krakatau Berbahaya bagi Penerbangan Pesawat [Foto: Ilustrasi mu4.co.id]

Jakarta, mu4.co.id – Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga menjadi ancaman serius bagi keselamatan penerbangan.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono mengungkapkan bahwa abu vulkanik sangat berbahaya bagi penerbangan karena tidak terdiri dari tetesan air atau kristal es, melainkan fragmentasi kaca silika (SiO2) dan mineral mikroskopis tajam yang bersifat abrasif, yang sanggup mengikis kaca kokpit, merusak sensor kecepatan udara, serta memicu gangguan listrik statis pada navigasi.

“Bahaya paling krusial terletak pada dinamika termal di dalam  mesin turbofan pesawat. Suhu ruang bakar mesin jet saat beroperasi dapat mencapai 1.400 derajat C hingga 2.000 derajat C, jauh melampaui titik leleh senyawa silika dalam abu vulkanik yang meleleh di kisaran 1.100 derajat C,” ungkapnya, dikutip sindonews.com, Ahad (06/09/2026).

Baca juga: 8 Bandara Ditutup Sementara Imbas Erupsi Anak Krakatau, Apa Saja?

Lebih lanjut, Daryono menjelaskan bahwa ketika abu vulkanik terhisap masuk ke dalam mesin, partikel silika tersebut meleleh secara mendadak, mengalir, lalu membeku kembali menjadi kerak kaca (silicate glass coating) saat melewati bagian turbin yang lebih dingin, sehingga dapat menyumbat nosel aliran udara dan mengganggu aerodinamika bilah turbin, yang berujung pada terhentinya aliran udara (engine stall) hingga hilangnya pembakaran internal secara total (flameout).

Di samping itu, komposisi asam yang melekat pada abu vulkanik juga berpotensi menyebabkan korosi instan pada komponen elektronik sensitif dan mencemari sistem pengondisian udara kabin (bleed air), yang dapat mengancam kelangsungan fungsi instrumen penerbangan.

Daryono pun menceritakan insiden penerbangan paling terkenal akibat abu vulkanik terjadi pada 24 Juni 1982, ketika pesawat British Airways Penerbangan 9 melintasi awan abu erupsi Gunung Galunggung di Jawa Barat pada ketinggian 37.000 kaki.

“Abu vulkanik silika yang terhisap ke dalam empat mesin jet Boeing 747 tersebut meleleh dan membeku di bilah turbin hingga memicu kegagalan pembakaran mendadak (flameout) yang mematikan seluruh mesin secara bersamaan, disertai fenomena listrik statis St. Elmo’s Fire dan kikisan abrasif pada kaca kokpit,” katanya.

Daryono pun mengatakan setelah meluncur bebas tanpa mesin sejauh puluhan kilometer keluar dari paparan awan abu, kapten pilot Eric Moody dan krunya berhasil menyalakan kembali mesin saat suhu partikel meleleh mendingin dan rontok di ketinggian lebih rendah, lalu melakukan pendaratan darurat dengan selamat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.

“Penghentian sementara operasional penerbangan di beberapa bandara saat terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini merupakan langkah dan keputusan yang tepat demi menjamin keselamatan penerbangan,” pungkasnya.

[post-views]
Selaras