Ambon, mu4.co.id — Muhammadiyah mengoperasikan kapal berbasis yacht bernilai Rp2 miliar yang difungsikan sebagai Klinik Apung Said Tuhuleley (KAST). Kapal bermesin 750 PK ini dihadirkan bukan untuk kemewahan, melainkan sebagai sarana transportasi medis dan misi kemanusiaan bagi masyarakat di pulau-pulau terpencil wilayah Maluku.
Nama kapal ini diambil dari aktivis Muhammadiyah kelahiran Saparua tahun 1953, Said Tuhuleley, tokoh yang melahirkan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Muhammadiyah. Penggunaan nama tersebut menjadi bentuk penghormatan atas rekam jejak dedikasinya dalam membela kaum dhuafa.
Sejak pertama kali berlayar pada 25 Februari 2017, KAST bertolak menuju pulau-pulau yang selama ini sulit mengakses fasilitas kesehatan layak, seperti Pulau Saparua dan Pulau Haruku, dengan membawa tim dokter serta perawat Muhammadiyah. Pada ekspedisi berikutnya di bulan November, kapal ini menyasar Pulau Banda Besar, Banda Neira, Hatta, Rhun, hingga Pulau Ay.
Meski menyandang nama “klinik”, jangkauan aksi relawan KAST tak sebatas layanan medis gratis. Kapal ini turut memfasilitasi program pendidikan, pemberdayaan ekonomi, hingga pengerahan dai ke wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).
Selama rentang 2017–2018, para relawan secara konsisten menyalurkan bantuan sembako, perlengkapan sekolah, serta bantuan alat tangkap dan pertanian bagi nelayan dan petani lokal.
Di tengah dinamika sosial kawasan Maluku yang rentan konflik antar-pemeluk agama, KAST juga mengambil peran dalam menjaga keharmonisan. Salah satu aksinya adalah pembagian panel surya (solar panel) secara adil. Di Pulau Haruku, bantuan disalurkan untuk dua masjid dan dua gereja, sementara di Pulau Seram dan Saparua, delapan unit panel surya dibagikan secara merata ke empat masjid dan empat gereja.
Dilansir dari laman ibtime.id, Selasa (28/7), kehadiran KAST turut membangkitkan kembali aktivitas sosial-keagamaan di pelosok. Di Negeri Kulur, Pulau Saparua, relawan berhasil menghidupkan kembali Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) yang sempat vakum, serta menyemarakkan kegiatan bulan Ramadan.
Sulitnya akses geografis sempat membuat daerah-daerah tersebut luput dari bantuan. Dalam salah satu kunjungan, seorang kepala sekolah bahkan menangis haru di hadapan relawan karena sekolahnya belum pernah menerima bantuan dari pihak manapun sebelumnya.
Seluruh operasional KAST dibiayai penuh oleh Lazismu PP Muhammadiyah bekerja sama dengan beberapa lembaga filantropi lainnya. Dengan dukungan ini, relawan didatangkan dari berbagai wilayah, baik dari dalam maupun luar Maluku, untuk memastikan pelayanan berjalan berkelanjutan.
Hadirnya Klinik Apung Said Tuhuleley kini menjadi salah satu pilar utama dakwah sosial Muhammadiyah dalam menjangkau kawasan pesisir dan kepulauan Indonesia.















