India, mu4.co.id – Bank Indonesia (BI) mendorong penguatan transaksi mata uang lokal dan sistem pembayaran lintas negara antaranggota BRICS untuk meningkatkan ketahanan keuangan di tengah ketidakpastian ekonomi global, termasuk melalui perluasan pembayaran berbasis QR antarnegara.
“Indonesia melihat peluang strategis bagi BRICS untuk mengubah berbagai tantangan menjadi resiliensi bersama melalui penguatan kerja sama konkret. Termasuk transaksi mata uang lokal dan konektivitas pembayaran lintas negara, dengan tetap memperhatikan tahapan pembangunan dan prioritas nasional masing-masing negara,” jelas Gubernur BI Destry Damayanti dikutip dari SindoNews, Senin (14/9).
Destry menyampaikan hal tersebut dalam Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral BRICS ke-2 (BRICS FMCBG) pada 9–10 September 2026 di Mumbai, India.
Baca Juga: Presiden Prabowo Tiba di India, Hadiri KTT BRICS Bersama Pemimpin Negara Lainnya
Dalam forum yang dihadiri perwakilan negara anggota BRICS itu, para peserta menyepakati penguatan ketahanan ekonomi dan stabilitas keuangan menghadapi risiko global.
Adapun pembahasan mencakup transformasi digital dan kecerdasan buatan (AI), pembayaran lintas batas, penggunaan mata uang lokal, keamanan siber, serta keuangan berkelanjutan.
Indonesia juga mendorong reformasi arsitektur keuangan global, termasuk tata kelola Dana Moneter Internasional (IMF), agar peran negara berkembang lebih terwakili. Destry menilai perbedaan karakteristik tiap negara dapat menjadi dasar kemitraan yang saling melengkapi.
Baca Juga: Rupiah Tertekan, Dollar AS Hampir Sentuh Rp 18.000. Ini Sebabnya!
Di sela pertemuan BRICS, Destry bertemu Gubernur Reserve Bank of India Sanjay Malhotra untuk membahas percepatan kerja sama transaksi mata uang lokal Indonesia-India, fasilitas swap bilateral, serta konektivitas pembayaran melalui kode QR.
Kerja sama ini dinilai menjadi langkah konkret dalam memperkuat integrasi ekonomi dan keuangan antarnegara BRICS.
Pertemuan BRICS FMCBG ke-2 juga menghasilkan Pernyataan Bersama sebagai bentuk komitmen menghadapi dinamika ekonomi global dan memperkuat dialog di tengah fragmentasi ekonomi serta geopolitik.
(SindoNews)














