Banjarmasin, mu4.co.id – Forum Komunikasi Kepala Sekolah/Madrasah Muhammadiyah (FK2SM) Kota Banjarmasin di bawah Majelis Dikdasmen & PNF PDM Kota Banjarmasin mengeluarkan imbauan resmi kepada seluruh sekolah/ madrasah Muhammadiyah se-kota Banjarmasin untuk melaksanakan sholat Istisqa’ (sholat meminta hujan) secara serentak.
Sholat Istisqa’ dilaksanakan pada Jumat, 21 Agustus 2026 M (9 Rabi’ul Awal 1448 H) mulai pukul 08.00 WITA bertempat di halaman atau lingkungan sekolah/madrasah masing-masing.
Dalam Putusan Tarjih (Muktamar Tarjih di Garut, 1976) dituntunkan, bahwa minta hujan itu dapat dilakukan secara perorangan atau berkelompok. Apabila berkelompok, maka diperlukan adanya imam dan dapat dilakukan dengan berdoa bersama saja dengan dipimpin oleh imam atau dengan melakukan shalat.
Apabila minta hujan itu dilakukan dengan berdoa saja, doa itu dapat dilakukan dalam khutbah Jum’at, atau di luar khutbah Jum’at, baik dalam masjid (di atas mimbar) maupun di luar masjid.
Dan apabila dilakukan dengan shalat, hal itu dilaksanakan di lapangan, dengan khutbah sesudah shalat. Dan boleh juga khutbah dilakukan sebelum shalat. [Lihat, Putusan Tarjih, Berita Resmi Muhammadiyah, No. 76/1977, hal. 5 (teks Arab) dan hal. 22-23 (terjemahannya)].
Berikut ini Tata Cara Pelaksanaan Shalat Istisqa’:
Persiapan Sebelum Shalat Istisqa’
- Jemaah dianjurkan memperbanyak istighfar (memohon ampun kepada Allah), taubat dan bersikap tawadlu.
- Jemaah dianjurkan mengenakan pakaian sederhana, bukan berhias yang terbaik seperti pada salat ‘Īd.
- Jemaah berkumpul di tempat terbuka atau di tanah lapang untuk mengerjakan shalat Istisqa’ secara berjamaah
Tata Cara Shalat Istisqa’
- Pelaksanaan shalat istisqa’ berjemaah tanpa di dahului adzan dan iqamah, sebagaimana shalat idul fitri atau idul adha.
- Shalat Istisqa’ dilakukan tanpa takbīrāt zawāid (takbir tambahan), jadi hanya seperti melaksanakan salat biasa, bukan seperti salat Ied.
- Imam membaca surah Al Fatihah dan surah pendek dengan Jahr/ nyaring.
- Sholat Istisqa’ dilakukan 2 rakaat seperti sholat biasa.
Khutbah Istisqa’
Setelah melaksanakan shalat Istisqa’ berjemaah, Imam berdiri di mimbar untuk memberikan khutbah singkat sebagaimana khutbah Idul fitri atau Idul Adha yaitu satu kali khutbah. Sebenarnya khutbah ini dapat dilakukan sebelum atau setelah salat Istisqa’.
Isi dari materi khutbah lazimnya mengajak jemaah untuk senantiasa memperbanyak istighfar dan taubat kepada Allah atas segala dosa yang telah dilakukan, dan juga mengajak para jemaah untuk memperbanyak amal shaleh.
Imam Memimpin Do’a
Saat hendak berdoa, khatib menghadap ke arah kiblat dengan membelakangi jemaah seraya membalikkan selendangnya dari kiri ke kanan atau kanan ke kiri.
Khatib kemudian berdoa dengan mengangkat tangan. Selama doa ini, para jemaah dan khatib mengangkat tangan lebih tinggi dari biasanya. Adapun doa yang dibaca dapat berupa doa permohonan ampun kepada Allah sebagaimana doa dalam khutbah pada umumnya dan dapat pula ditambah dengan doa-doa khusus minta hujan, seperti:
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ اللَّهُمَّ أَنْتَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْغَنِيُّ وَنَحْنُ الْفُقَرَاءُ أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ لَنَا قُوَّةً وَبَلَاغًا إِلَى حِينٍ
اللَّهُمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِمَكَ وَانْشُرْ رَحْمَتَكَ وَأَحْيِ بَلَدَكَ الْمَيِّتَ اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا مَرِيئًا مَرِيعًا نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ عَاجِلًا غَيْرَ آجِلٍ
Setelah selesai berdoa, Imam turun dari mimbar dan kembali menghadap jamaah.
Pelaksanaan sholat Istisqa’ ini pernah dilakukan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam ketika terjadi musim kemarau panjang, sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ خَرَجَ نَبِيُّ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا يَسْتَسْقِي فَصَلَّى بِنَا رَكْعَتَيْنِ بِلَا أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ ثُمَّ خَطَبَنَا وَدَعَا الله وَحَوَّلَ وَجْهَهُ نَحْوَ الْقِبْلَةِ رَافِعًا يَدَيه ثُمَّ قَلَبَ رِدَاءَهُ فَجَعَلَ الْأَيْمَنَ عَلَى الْأَيْسَرِ وَالْأَيْسَرَ عَلَى الْأَيْمَنِ
Artinya: “Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa dia berkata: Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam pada suatu hari keluar untuk melakukan istisqa’, lalu ia shalat mengimami kami dua rakaat tanpa azan dan tanpa iqamat. Kemudian ia berkhutbah dan berdoa kepada Allah, seraya menghadapkan mukanya ke arah Kiblat, sambil mengangkat kedua tangannya, kemudian memutar jubahnya, sehingga ujung kanannya berada di sebelah kiri dan ujung kirinya berada di sebelah kanan.” [HR. Ibnu Majah dan Ahmad]
Referensi:
Keputusan MTT PP Muhammadiyah dalam Muktamar Tarjih XX tahun 1976 di Garut; dan Fatwa-Fatwa MTT PP Muhammadiyah.













![Jajaran Pengurus Daerah Muhammadiyah [PDM] Jombang bersama Panitia Lokal Muktamar ke 35 NU](https://mu4.co.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG_3871-300x182.webp)
