Media Utama Terpercaya

18 Oktober 2026, 17:44
Search

Citra Satelit NASA Lihatkan Sebaran Karbon Monoksida Tinggi di Indonesia, Apa Dampaknya?

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Citra Satelit NASA Lihatkan Sebaran Karbon Monoksida Tinggi di Indonesia
Citra Satelit NASA Lihatkan Sebaran Karbon Monoksida Tinggi di Indonesia [Foto: NASA]

Jakarta, mu4.co.id – Citra Satelit NASA melalui laman Eyes on Earth memperlihatkan sebaran karbon monoksida (CO) dengan konsentrasi tinggi di atas wilayah Indonesia yang menampilkan rata-rata pengamatan selama tiga hari, dari 13-15 Oktober 2026.

Dalam gambar tersebut, sebagian besar wilayah Indonesia terlihat diselimuti warna merah tua, dikelilingi warna oranye, kuning, dan hijau. Warna-warna itu menunjukkan konsentrasi karbon monoksida di atmosfer.

Dalam keterangan NASA, area berwarna merah menunjukkan konsentrasi karbon monoksida yang lebih tinggi, sedangkan area berwarna biru dan ungu menunjukkan konsentrasi yang lebih rendah. Data pemantauan CO dari satelit NASA tersebut bisa bermanfaat untuk mengetahui polusi dan pergerakan polutan di atmosfer.

Karbon monoksida (CO) sendiri merupakan gas beracun yang tidak berwarna dan tidak berbau. Gas ini muncul dari sisa pembakaran bahan-bahan mengandung karbon yang tidak sempurna, contohnya bahan bakar kendaraan bermotor, kayu, dan vegetasi hutan. Saat karhutla, semak-semak, tanaman kering, dan bahan organik di lapisan gambut berpotensi melepaskan CO ke atmosfer. Gas akan terbawa angin dan menyebar ke wilayah yang jauh dari lokasi kebakaran.

Tidak heran jika negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura juga kena imbas akibat karhutla yang terjadi di Indonesia. Tetapi sebenarnya CO bisa berasal dari sumber lain, misalnya emisi kendaraan bermotor, pembangkit listrik, kegiatan industri, maupun aktivitas bakar-bakar sampah yang kerap dilakukan masyarakat.

Baca juga: Asap Karhutla Kalimantan Terbawa hingga Jakarta!

Sebelumnya, kaitan antara karhutla dan tingginya konsentrasi CO pernah teramati oleh NASA pada 2015. Dalam laporan berjudul Carbon Monoxide in the Mid-Troposphere over Indonesia Fires, October 26-28, 2015, terlihat tingginya konsentrasi CO di lapisan atmosfer akibat karhutla besar yang melanda Indonesia kala itu.

Jika dibandingkan, pada tahun 2015, konsentrasi CO di wilayah Sumatra tercatat mencapai 400 ppbv, sedangkan pada 13-15 Oktober 2026 angkanya berada di kisaran 160 ppbv. Angka 160 ppbv bisa diasumsikan sebagai 500 mililiter udara yang kita hirup mengandung sekitar 0,08 mikroliter CO. Jika bernapas dengan 500 milimeter sebanyak 16 kali per menit, total CO yang dihirup bisa mencapai sekitar 1,28 mikroliter per menit. Angkanya memang rendah, tetapi bukan berarti tidak berbahaya.

Untuk kondisi bulan ini, Oktober 2026, kemungkinan penyebab tingginya CO di atas Indonesia perlu didukung dari data sebaran asap dan kecepatan angin. Dilihat dari pantauan ASEAN Specialised Meteorological Centre (asmc.asean.org), per Jumat (16/10/2026), terlihat sebaran asap dari wilayah Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah bergerak mengikuti arah angin menuju wilayah Indonesia bagian Barat. Sementara asap dari Sumatra juga terlihat mengepung Singapura dan Malaysia. Jadi, bukan tidak mungkin konsentrasi CO yang sangat tinggi di atmosfer Indonesia berasal dari karhutla.

Bahayanya juga tidak main-main, paparan karbon monoksida dapat menyebabkan keracunan, dengan menimbulkan sejumlah gejala seperti sakit kepala, pusing, dan sesak napas. Risikonya tergantung oleh konsentrasi gas, lama paparan, dan kondisi kesehatan orang yang terpapar.
(detik.com)

[post-views]
Selaras