AS, mu4.co.id – Pesatnya pembangunan pusat data mulai menuai penolakan warga di berbagai wilayah. Kekhawatiran muncul terkait kenaikan biaya utilitas, potensi limbah berbahaya, hingga kebisingan.
Menurut laporan Reuters, berdasarkan riset Data Center Watch, tercatat 75 proyek pusat data di Amerika Serikat (AS) menghadapi penolakan masyarakat.
Sebanyak 75 proyek tersebut bernilai investasi US$130 miliar atau sekitar Rp2.341 triliun, dengan penolakan tercatat sepanjang tiga bulan pertama 2026. Gelombang protes ini turut menjadi perhatian investor, termasuk perbankan dan perusahaan ekuitas swasta.
Baca Juga: AHY Soroti Proyek Data Center AI di Jatiluhur yang Memerlukan Air 384 Liter per Detik!
Kepala Infrastruktur Global dan Keuangan Berkelanjutan Bank of America, Karen Fang, menegaskan pentingnya mempertimbangkan kesiapan proyek serta dukungan masyarakat sebelum pembangunan dilakukan.
“Khususnya akan melihat dua hal, pertama kesiapan proyek…aspek kedua yang saya lihat adalah kualitas kredit dari proyek tersebut. Kesiapan artinya seluruh perizinan dan persetujuan yang diperlukan lengkap, dan dukungan dari komunitas warga yang akan tinggal di sekitar lokasi,” jelas Fang dikutip dari CNBC, Sabtu (17/10).
Meski penolakan warga meningkat, fenomena ini diperkirakan belum cukup untuk menghambat pertumbuhan industri pusat data. Para investor mulai menyesuaikan dan memperhitungkan risiko pembatalan proyek, di tengah tingginya permintaan daya komputasi AI.
(CNBC)












