Media Utama Terpercaya

1 Oktober 2026, 14:05
Search

Beberapa Tokoh Kalsel Masuk Kepengurusan PBNU 2026-2031, Salah Satunya Paman Birin

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Kepengurusan PBNU baru
Beberapa Tokoh Kalsel Masuk Kepengurusan PBNU 2026-2031 [Foto: mu4.co.id]

Jakarta, mu4.co.id – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) resmi mengumumkan susunan kepengurusan masa khidmah 2026-2031 di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Rabu (30/9/2026) malam.

Pengumuman tersebut dihadiri Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Katib Aam PBNU Prof KH Mohammad Nuh, Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), serta Sekjen PBNU Gudfan Arif.

Susunan lengkap pengurus tercantum dalam SK PBNU Nomor 2/PB.01/A.II.01.01/99/09/2026, yang meliputi jajaran Mustasyar, Pengurus Harian Syuriyah, A’wan, hingga Pengurus Harian Tanfidziyah.

Dari ratusan nama yang diumumkan, terdapat beberapa tokoh asal Kalimantan Selatan yang berhasil masuk dalam jajaran pengurus pusat tersebut.

Tokoh Kalsel tersebut yakni KH. Wildan Salman (Mustasyar), Prof. Artani Hasbi – Kepala Kanwil Departemen Agama Provinsi Kalimantan Selatan 2001-2006 (Mustasyar), H. Sahbirin Noor atau Paman Birin (A’wan), Prof Dr Muhammad Madyan – Rektor Universitas Airlangga (UNAIR) periode 2025-2030 (A’wan) serta KH. Syarbani Haira (Tanfidziyah sebagai Ketua).

Masuknya mantan Gubernur Kalsel dua periode, Sahbirin Noor (Paman Birin), menjadi perhatian publik karena dipercaya mengisi jajaran A’wan PBNU bersama Gubernur Kalteng H. Agustiar Sabran.

Baca juga: Muktamar ke-35 NU Tetapkan KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan Gus Kikin sebagai Ketum PBNU

Menanggapi keterwakilan Kalsel di level pusat tersebut, KH. M. Syarbani Haira memberikan pandangan positifnya.

“Positif lah, memang sebenarnya harus lebih banyak dari 4 orang itu,” ujarnya dilansir dari Jejakrekam, Kamis (1/10/2026).

Mantan Ketua PWNU Kalsel ini menilai idealnya ada tokoh Kalsel di unsur Ketua dan Sekretaris guna mengalokasikan aspirasi wilayah, terlebih IKN di Kalimantan akan mulai beroperasi penuh pada 2028.

“Jadi kalau dari Kalsel hanya 4 yang masuk kita hargai untuk perwakilan pusat,” ujarnya.

Syarbani menambahkan bahwa dirinya dan Prof. Artani Hasbi sebelumnya juga pernah dipercaya menjadi pengurus PBNU saat Muktamar di Lampung.

“Memang sangat wajar orang daerah harus masuk kepengurusan PBNU, kalau dari daerah tidak masuk, PBNU tidak akan tahu program-program atau agenda-agenda apa dari PBNU,” ujarnya.

Baca juga: Pakar Ilmu Manajemen Kelahiran Martapura Ini Terpilih Menjadi Rektor UNAIR 2025-2030!

Ia menekankan keterwakilan daerah sangat penting agar PBNU memahami permasalahan riil masyarakat di lapangan.

“Kita kan banyak pulau, ada Pulau Sulawesi, Sumatera tapi yang terbanyak masuk di kepengurusan itu dari Jawa, tapi kita tetap merespon positif,” ujarnya.

“Saya sendiri mungkin karena saya pernah jadi Ketua PWNU Kalsel sehingga diperlukan lagi dan diharapkan berkontribusi dan bukan sekedar pengurus,” tambahnya.

Mengenai bergabungnya Paman Birin dan Agustiar Sabran di jajaran A’wan PBNU, Syarbani menilai keberadaan para mantan dan pejabat daerah tersebut sangat strategis sebagai dewan pakar penghubung daerah dan pusat.

“Kalau Paman Birin berkecimpung di NU itu luar biasa, Beliau mantan gubernur tahu masalah keadaan daerah, nanti disampaikan ke forum NU, akan berbuat apa untuk membangun Kalsel dan Kalimantan secara umum, apalagi di situ ada Agustiar Sabran Gubernur Kalteng, menurut saya sangat positif saja,” pungkasnya.

Berikut susunan Mustasyar dan A’wan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026–2031:

MUSTASYAR

  1. KH Ahmad Mustofa Bisri
  2. Prof KH Ma’ruf Amin
  3. H M Jusuf Kalla
  4. KH M Anwar Manshur
  5. TGK KH Nuruzzahri Yahya
  6. AGH Baharuddin HS
  7. TGH LM Turmudzi Badaruddin
  8. KH Taufiqurrahman Subki
  9. Prof KH Said Aqil Siroj
  10. Nyai Hj Shinta Nuriyah A. Wahid
  11. Nyai Hj Machfudhoh Aly Ubaid
  12. dr KH Umar Wahid
  13. KH Abd Matin Djawahir
  14. KH Fuad Nurhasan
  15. KH Muhtadi Dimyathi
  16. KH Ulin Nuha Arwani
  17. KH Irfan Yusuf
  18. KH Idris Hamid
  19. KH Abdul Ghofur
  20. KH Wildan Salman
  21. KH Jirjis Ali Maksum
  22. KH As’ad Said Ali
  23. KH Ali Akbar Marbun
  24. Prof Artani Hasbi
  25. AGH Habib Abdurrahim Assegaf
  26. KH Muhammad Nuh Ad-Dawami
  27. KH Abdullah Ubab Maimoen
  28. KH Zakky Mubarok
  29. KH Mustafa Bakri Nasution
  30. Muhammad A.S. Hikam
  31. Prof KH Masykuri Abdillah
  32. Prof Moh Mahfud MD
  33. Nyai Hj Hizbiyah Rochim

A’WAN PBNU

  1. Prof TGH Masnun Tahir
  2. Ny Dra Hj Khofifah Indar Parawansa
  3. Habib Ahmad Edrus Al Habsyi
  4. KH Fatahillah
  5. KH Yusuf Chudori
  6. KH Mu’tashim Billah
  7. KH Abdussalam Shohib
  8. KH Nur Taufiq Sanusi
  9. Hj Badriyah Fayumi
  10. Nyai Hj Ida Fatimah Zainal
  11. H Nusron Wahid
  12. KH Ahmad Ma’sum Abror
  13. H Masduki Baidlowi
  14. H Misbahul Ulum
  15. KH Abdul Muhaimin
  16. H Herman Deru
  17. H Agustiar Sabran
  18. KH Hambali Ilyas
  19. Dr H Ahmad Roziqi
  20. H Sahbirin Noor
  21. H Hilmi Ali Yafie
  22. KH Masyhur Syihab
  23. KH Muhajirin Yanis
  24. Prof Ir Eduart Wolok
  25. Prof Suharnomo
  26. Prof Muhammad Madyan
  27. H Endin A.J. Soefihara
  28. KH Musyaffa’ Fauzi
  29. H Nasyirul Falah Amru
  30. H Andi Sahibuddin
  31. H Robikin Emhas
  32. Prof H Sumper Mulia Harahap
  33. Prof Asasriwarni
  34. H Adib Fuad

[post-views]
Selaras