Jakarta, mu4.co.id – Harga emas dunia kembali melesat pada perdagangan akhir pekan, Jumat (09/10/2026), setelah tertekan selama dua pekan berturut-turut.
Berdasarkan data Refinitiv, harga emas pada penutupan perdagangan Jumat (09/10/2026) berada di level US$4.193,83 per troy ons, melonjak 1,45% dibandingkan penutupan sebelumnya sebesar US$4.133,93 per troy ons.
Kenaikan tersebut memperpanjang penguatan emas menjadi dua hari beruntun, setelah pada Rabu (07/10/2026) harganya sempat menyentuh level terendah dalam dua bulan. Dalam sepekan, harga emas menguat 1,24%, berbalik dari pelemahan 3,36% pada pekan sebelumnya. Penguatan ini sekaligus mengakhiri tren negatif selama dua pekan berturut-turut.
Reuters menyebut kenaikan harga emas ditopang aksi beli investor setelah logam mulia tersebut mengalami penurunan tajam sepanjang beberapa pekan terakhir, sementara pasar mencermati arah suku bunga Amerika Serikat (AS) menjelang rilis data inflasi terbaru. Selain itu, pemulihan harga emas juga didukung oleh meredanya tekanan dari dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Baca juga: Harga Emas Dunia Anjlok Akibat Perang Timur Tengah, Kenaikan Dolar AS, dan Suku Bunga
Di sisi lain, harga minyak dunia yang masih berada di atas US$100 per barel turut menjadi perhatian karena berpotensi menjaga tekanan inflasi tetap tinggi. Pada perdagangan Jumat, harga minyak Brent ditutup di sekitar US$104 per barel, meskipun AS mengumumkan kesepakatan dengan Rusia untuk menambah pasokan diesel ke pasar global. Kondisi tersebut membuat pergerakan harga emas masih sensitif terhadap perubahan ekspektasi inflasi dan kebijakan suku bunga AS.
Selain itu, perhatian investor kini tertuju pada rilis indeks harga konsumen atau Consumer Price Index (CPI) AS yang dijadwalkan pada pekan depan. Han Tan, Kepala Analis Pasar Bybit, menilai data inflasi mendatang berpotensi menjadi katalis bagi pergerakan besar harga emas berikutnya.
Menurutnya, jika inflasi tetap tinggi dan mendorong Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed menaikkan suku bunga lebih agresif, harga emas berpotensi kembali menguji level psikologis US$4.000 per troy ons. Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dari perkiraan berpotensi meredakan tekanan kenaikan suku bunga, sehingga memberikan ruang bagi pemulihan emas.
Sementara itu, permintaan emas fisik di Asia menunjukkan perkembangan berbeda. Reuters melaporkan permintaan emas di India cenderung lesu pada pekan ini seiring kenaikan harga, sedangkan aktivitas perdagangan di China terbatas akibat libur nasional.
Dengan demikian, meski emas berhasil bangkit setelah dua pekan melemah, keberlanjutan penguatannya masih akan bergantung pada data inflasi AS, pergerakan dolar dan imbal hasil obligasi, serta arah kebijakan The Fed dalam beberapa pekan mendatang.
(cnbcindonesia.com)















