Demak, mu4.co.id – Kisah ilmuwan pertanian asal Demak, Jawa Tengah, Ali Zum Mashar, kembali menjadi sorotan setelah inovasinya yang sempat diragukan di Indonesia kini diminati sejumlah negara Timur Tengah dengan nilai penawaran mencapai triliunan rupiah.
Pada 1999, Ali mengembangkan pupuk hayati berbasis bioteknologi yang dikenal sebagai “Mikroba Google” atau Bio P2000 Z. Formula tersebut diklaim mampu memperbaiki kualitas tanah, termasuk memulihkan lahan kritis dan gambut.
Namun, saat pertama diperkenalkan, inovasi itu justru menuai keraguan karena dianggap terlalu ambisius hingga diluar nalar dan sulit dibuktikan secara ilmiah.
Baca Juga: Teliti Solusi Ramah Lingkungan untuk Petani Melon, Mahasiswa UGM Lulus dengan IPK 4,00
Meski sempat diragukan, Ali tetap melanjutkan penelitiannya secara mandiri hingga rela menjual rumah dan aset pribadi untuk membiayai riset. Hasilnya, teknologi “Mikroba Google” terbukti mampu mengubah lahan kritis dan gambut menjadi lahan pertanian yang produktif.
“Cara kerjanya seperti mesin pencari Google. Mikroba ini mencari mineral yang tersembunyi di tanah, mengolahnya secara hayati sehingga dapat dimanfaatkan tanaman. Seperti bioaktivator,” jelasnya dikutip dari laman Alumni IPB, Selasa (30/6).
Keberhasilan tersebut menarik perhatian sejumlah negara Timur Tengah yang menawarkan nilai triliunan rupiah untuk mengakuisisi hak patennya.
Saat ini, Mikroba Google telah mengantongi empat lisensi paten dari World Intellectual Property Organization (WIPO), lembaga internasional yang mengelola perlindungan hak kekayaan intelektual.
(Zona Mahasiswa, Alumni IPB, Kabar Tangsel)















