Media Utama Terpercaya

17 Juli 2026, 19:02
Search

Pemuda Indonesia Ciptakan Teknologi Pelacak Drone yang Diakui Dunia

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Pemuda Indonesia Ciptakan Teknologi Pelacak Drone yang Diakui Dunia
Pemuda Indonesia Ciptakan Teknologi Pelacak Drone yang Diakui Dunia [Foto: arlo1.com]

Jakarta, mu4.co.id – Deo, pemuda asal Indonesia sukses menorehkan prestasi di Amerika Serikat di bidang teknologi pertahanan, melalui startup Arlo Industries di San Francisco dan menciptakan sistem pelacak drone bernama Mentat.

Arlo Industries berhasil diterima dalam program Y Combinator (YC), salah satu inkubator startup paling bergengsi di dunia yang berbasis di Silicon Valley. Nama Mentat sendiri terinspirasi dari karakter dalam semesta Dune, yang dirancang untuk mendeteksi ancaman drone secara akurat. Teknologi tersebut merupakan node sensor udara pasif yang mampu mendeteksi dan melacak drone tanpa memancarkan sinyal radar.

Pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa talenta muda Indonesia mampu menghadirkan inovasi teknologi berkelas dunia dan bersaing di tingkat global.

Pemuda Indonesia Ciptakan Teknologi Pelacak Drone yang Diakui Dunia [Foto: arlo1.com]

Baca  juga: Hadapi Jutaan Jemaah Haji 2026, Saudi Gunakan Drone untuk Distribusi Obat, Pangkas Waktu 90 Menit Jadi 6 Menit!

Berbeda dengan radar militer konvensional yang berukuran besar dan sulit dipindahkan, teknologi Arlo Industries jauh lebih ringkas, hemat biaya, dan modular. Perangkat kerasnya dibangun dalam bentuk jaringan sensor yang mudah dipasang di berbagai lokasi strategis. Karena bersifat pasif, Mentat dapat mengidentifikasi target tanpa memancarkan sinyal radar sendiri.

Hebatnya, sistem ini menggunakan jaringan kamera multispektral (optik dan termal) beresolusi tinggi yang mampu beroperasi pada siang maupun malam hari, serta dalam kondisi berkabut atau cuaca buruk.

Selain mengandalkan sensor visual, Mentat juga mampu mengenali frekuensi suara putaran baling-baling drone di lingkungan yang bising, serta mendeteksi sinyal komunikasi antara drone dan operator untuk mengetahui posisi keduanya.

Sistem pertahanan udara tradisional dibangun di sekitar radar terpusat yang melindungi area terbatas. Sistem ini mahal, memancarkan radiasi, dan sulit untuk ditingkatkan skalanya terhadap ancaman padat di ketinggian rendah.
(goodnewsfromindonesia.id)

Pemuda Indonesia Ciptakan Teknologi Pelacak Drone yang Diakui Dunia [Foto: arlo1.com]

[post-views]
Selaras