Media Utama Terpercaya

10 Juli 2026, 23:23
Search

Oksigen Sungai Menipis Akibat Surutnya Debit Air, Ribuan Ikan Keramba di Banjar Terancam

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Oksigen Sungai Kawasan Budidaya Ikan Keramba Jaring Apung Kabupaten Banjar Menipis
Oksigen Sungai Kawasan Budidaya Ikan Keramba Jaring Apung Kabupaten Banjar Menipis [Foto: jeejakrekam.com]

Banjar, mu4.co.id – Kadar oksigen terlarut (DO) di sungai kawasan budidaya ikan keramba jaring apung Kabupaten Banjar berkurang, seiring dengan penyesuaian operasi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Ir.P.M.Noor akibat surutnya debit Waduk Riam Kanan di musim kemarau.

Kondisi itupun menimbulkan kekhawatiran serius, yang dirasakan langsung dampaknya oleh para pembudidaya ikan. Berdasarkan hasil pemantauan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Banjar menunjukkan kadar DO di sejumlah lokasi hanya berkisar 0,61–1 mg/liter, yang berisiko tinggi memicu stres hingga kematian massal ikan bila berlangsung lama.

Kepala Bidang Perikanan Budidaya DKPP Kabupaten Banjar, Bandi Chairullah, menegaskan kondisi ini harus segera diantisipasi. “Kalau berlangsung lama, ikan bisa stres, sulit bernapas, bahkan berpotensi mati massal,” ujarnya.

Sementara itu, Kasubbag Perencanaan DKPP, Apriyan Mindar Waspodo, menyebut tim telah turun langsung di antaranya di Sungai Arfat dan Mali-Mali untuk mengecek kualitas air sekaligus mengimbau pembudidaya agar segera mengambil langkah antisipasi. Imbauan itu juga disampaikan melalui media sosial DKPP dan siaran Radio Al Karomah, termasuk saran mempercepat jadwal panen serta mengurangi kepadatan tebar benih agar kebutuhan oksigen ikan tetap tercukupi.

Baca juga: Hentikan Praktik BAB, Ratusan WC Sehat Dibangun di Kawasan Bantaran Sungai Banjarmasin Mencapai Rp2,3 Miliar

Salah satu pembudidaya di Desa Mali-Mali yang merasakan dampak nyata penurunan kualitas air tersebut, Salmi, memilih memanen lebih awal sekitar 500 kilogram ikan bawal. “Alhamdulillah masih sempat dipanen. Kalau terlambat beberapa hari saja, kemungkinan ikannya sudah mati karena oksigen sangat rendah,” katanya.

Hal serupa juga disampaikan Iwan Hadruni, pembudidaya di Desa Tambela, Kecamatan Aranio. Ia mengaku baru mengetahui adanya penyesuaian operasi PLTA setelah melihat permukaan air turun lebih dari dua jengkal. “Bekas air di tebing sungai masih terlihat. Kalau debit terus berkurang, oksigen ikan makin menipis,” ujarnya.

Diketahui sebelumnya, PLN Indonesia Power UBP Barito sejak 1 Juli 2026 menyesuaikan pola operasi PLTA Ir.P.M. Noor dengan hanya mengoperasikan satu unit turbin berkapasitas 5 megawatt, sebab Tinggi Muka Air (TMA) Waduk Riam Kanan turun hingga 57 meter di atas permukaan laut.

Manager ULPLTAD Gunung Bamega, Reza Permana, menjelaskan langkah tersebut dilakukan untuk menjaga ketersediaan air hingga musim hujan tiba. “Agar aliran air di hilir tetap terjaga, dilakukan pengaturan beban melalui pengoperasian satu unit turbin,” jelasnya.
(Radar Banjarmasin)

[post-views]
Selaras