Media Utama Terpercaya

8 Oktober 2026, 14:36
Search

Menghamparkan Sajadah di Grand Mosque Bursa: Saksi Bisu Kejayaan Awal Ottoman

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Grand Mosque Bursa
Grand Mosque Bursa [Foto: mu4.co.id]

Bursa, mu4.co.id – Langkah kaki terhenti tepat di depan gerbang megah berbalut batu pahatan ashlar di jantung Kota Bursa sekitar 155 km atau 1 jam 45 menit dari kota Istanbul, Turki. Udara dingin terasa saat menjelang waktu Maghrib seolah menusuk kulit, berpadu dengan aroma sejarah yang begitu pekat.

Di hadapan nampak megah berdiri Bursa Ulu Cami (Grand Mosque), mahakarya arsitektur Islam awal Ottoman yang memukau. Dari luar, siluet dua menara menjulang tinggi mengawal bangunan berukuran luas ini, mengundang siapa saja untuk masuk dan menyelami kedalaman spiritualnya.

Sejarah dan Latar Belakang Pendirian

Menjejaki lantai marmer pelataran masjid ini, ingatan akan dibawa melayang ke akhir abad ke-14. Masjid agung ini didirikan atas titah Sultan Kesultanan Ottoman keempat, Sultan Yıldırım Bayezid I, antara tahun 1396 hingga 1399.

Latar belakang pembangunan masjid ini sarat akan nilai kemenangan dan rasa syukur. Sultan Bayezid I bernazar untuk membangun 20 buah masjid sebagai wujud syukur atas kemenangan gemilang pasukan Ottoman dalam Pertempuran Nicopolis pada tahun 1396. Namun, atas saran menantu sekaligus ulama besar saat itu, Emir Sultan, 20 niat masjid tersebut disatukan dalam satu kompleks bangunan megah berlantai luas: sebuah masjid agung dengan 20 kubah yang hari ini kita kenal sebagai Ulu Cami.

Baca juga: Masjid Al-Ghamamah, Dulunya Tanah Lapang Tempat Pertama Kali Rasulullah Salat Idul Fitri dan Istisqa’

Keindahan Bangunan dan Ornamen yang Memukau

Begitu melangkahkan kaki melewati pintu utamanya, mata langsung dimanjakan oleh lanskap interior yang tidak biasa untuk ukuran masjid kekaisaran. Ruang shalatnya terasa begitu luas, tenang, dan intim secara bersamaan.

Grand Mosque Bursa [Foto: mu4.co.id]

Atap masjid ini tidak disangga oleh satu kubah raksasa tunggal seperti masjid-masjid era Ottoman belakangan (seperti Masjid Biru atau Süleymaniye). Sebaliknya, atapnya ditopang oleh 12 pilar kokoh berukuran besar yang membagi ruang menjadi 20 kubah kecil dengan ukuran presisi yang sama, disusun dalam format grid lima kali empat.

Yang paling mencuri perhatian adalah koleksi kaligrafi monumental yang memenuhi dinding dan pilar-pilar masjid. Ada sekitar 192 karya kaligrafi indah berukuran besar—mulai dari gaya Sülüs hingga Nesih—yang ditulis oleh 41 master kaligrafi berbeda antara tahun 1778 hingga 1938. Tulisan ayat suci Al-Qur’an, asmaul husna, hingga nama-nama sahabat nabi terukir megah, menjadikan interior masjid ini bagaikan galeri seni kaligrafi kelas dunia.

Grand Mosque Bursa [Foto: mu4.co.id]

Tidak jauh dari sana, diri ini terpaku menatap Minbar (pintu mimbar khotbah) yang terbuat dari kayu kenari tua. Dibuat dengan teknik kündekâri—yakni menyatukan potongan-potongan geometri kayu tanpa menggunakan satu pun paku atau lem perekat—mimbar ini memuat relief tata surya dan galaksi dengan rasio perhitungan jarak planet yang akurat terhadap matahari. Sebuah pencapaian sains dan seni tingkat tinggi dari abad ke-14!

Grand Mosque Bursa [Foto: mu4.co.id]

Misteri dan Keunikan Air Mancur di Dalam Ruang Utama

Berjalan ke bagian tengah ruangan, telinga akan menangkap suara gemercik air yang menenangkan di tengah keheningan suasana ibadah. Di sinilah letak keunikan paling ikonik dari Bursa Ulu Cami: sebuah air mancur wudhu (şadırvan) yang terletak di dalam ruangan tertutup tepat di bawah kubah terbuka.

Grand Mosque Bursa [Foto: mu4.co.id]

Şadırvan ini dikelilingi pagar pembatas besi artistik, dinaungi oleh kubah yang bagian tengahnya dibiarkan terbuka tanpa penutup (oculus). Cahaya matahari alami menembus lubang kubah tersebut, jatuh tepat di atas percikan air mancur, menciptakan permainan cahaya dan bayangan indah di lantai marmer.

Di balik keberadaan air mancur di dalam ruang shalat ini, tersimpan sebuah cerita rakyat yang melegenda. Konon, lahan tempat masjid ini berdiri dulunya milik seorang wanita tua renta yang enggan menjual tanahnya meskipun Sultan menawarkan harga tinggi. Sang wanita baru bersedia menyerahkan tanahnya setelah bermimpi melihat konsekuensi buruk jika ia menolaknya. Untuk mengenang kisah di mana sebagian tanah masjid sempat dipersengketakan, para arsitek menempatkan aliran air persis di titik tanah milik sang wanita tersebut, agar airnya senantiasa mengalir dan mendatangkan keberkahan.

Baca juga: Masjid Nabawi, Berawal dari Tempat Ibadah Sederhana Hingga Menjadi Jantung Kehidupan Muslim di Madinah

Bangunan dan Religi Penting di Dalam Kompleks

Selain ruang utama, di dinding kiblat masjid juga tersimpan sebuah benda bersejarah yang sangat sakral: Kain Kiswah (penutup pintu Ka’bah) berwarna hitam legam berbalut sulaman benang emas dari Makkah. Kain ini dikirim ke Bursa setelah penaklukan wilayah oleh Sultan Selim I pada abad ke-16 sebagai lambang penghormatan spiritual yang tinggi.

Bahkan Bursa Ulu Cami (Grand Mosque) ini termasuk dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO (UNESCO World Heritage List) yang diresmikan pada tahun 2014.

Grand Mosque Bursa [Foto: mu4.co.id]

Menghabiskan waktu salat di hamparan sajadah di atas karpet tebalnya, seraya memandangi pantulan cahaya dari kubah terbuka dan menyimak gema bacaan ayat suci yang lembut, membuat kita paham mengapa Masjid Grand Mosque/ Bursa Ulu Cami sering dijuluki sebagai salah satu masjid paling bersejarah di dunia dalam awal kejayaan Islam di era Ottoman.

[post-views]
Selaras