Jakarta, mu4.co.id – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendorong optimalisasi ekspor di luar sektor komoditas mentah, menyusul fakta bahwa sektor industri manufaktur dan komponen dalam negeri telah berhasil membuktikan daya saingnya dengan masuk ke dalam ekosistem rantai pasok puluhan merek raksasa dunia.
Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie mengungkapkan bahwa penetrasi produk Indonesia di pasar global sebenarnya jauh lebih dalam dari yang banyak disadari publik. Ia merujuk pada sebuah buku pemetaan yang baru saja diluncurkan, bertajuk “We Buy From Indonesia” yang merekam jejak keterlibatan industri lokal di kancah internasional.
“Bukunya ini menggambarkan bahwa sudah ada di situ 77 brand dunia yang komponennya dari Indonesia. Dan bukan brand kecil. Dari Airbus, Boeing, Detol, Tesla, Netflix, On, hingga Nike,” ungkap Anindya, Dalam paparan penutupan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kadin 2026, Sabtu (31/10/2026).
Fakta tersebut menjadi landasan kuat bagi Kadin untuk terus menggenjot nilai ekspor nasional, khususnya yang berada di luar sektor ekstraktif dan sumber daya alam (SDA) murni.
Anindya kemudian membedah struktur nilai ekspor Indonesia yang saat ini menyentuh level kisaran US$309 miliar. Dari total nilai tersebut, porsi ekspor dari komoditas andalan seperti batu bara, kelapa sawit, hingga feronikel menyumbang sekitar US$60 miliar.
Artinya, masih terdapat porsi mayoritas sekitar US$240 miliar yang berasal dari luar komoditas tradisional tersebut, yang merepresentasikan potensi penciptaan nilai tambah sangat besar bagi perekonomian.
“Dari 309 miliar dolar itu kan sekitar 60 miliar dolarnya ada di sana, dari sisi batu bara, kelapa sawit, sampai ke feronikel. Nah tapi 240 miliar dolarnya ya di luar daripada itu, ini juga merupakan potensi ekspor yang luar biasa. Jadi itulah alasan kenapa kita menggunakan jargon Buy from Indonesia,” jelasnya.
Melalui kampanye strategis bertajuk Buy from Indonesia tersebut, pihaknya tidak hanya menargetkan peningkatan volume perdagangan barang jadi, tetapi juga berupaya mempromosikan kapasitas industri lokal sebagai basis pasokan komponen bernilai tambah tinggi di pasar global. Penguatan pada sektor ini diyakini akan memperkokoh fundamental ekonomi Indonesia agar tidak rentan terhadap gejolak harga komoditas mentah di masa mendatang.
(bisnis.com)














