Media Utama Terpercaya

10 September 2026, 13:33
Search

Intake Sungai Bilu Dihentikan, Produksi Air Bersih PT AM Bandarmasih Turun 50 Persen

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Intake Sungai Bilu
Intake Sungai Bilu dihentikan, pengolahan air bersih PT AM Bandarmasih turun 50 persen [Foto: Ilustrasi mu4.co.id]

Banjarmasin, mu4.co.id – Layanan air bersih di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, mengalami penurunan parsial akibat musim kemarau panjang. PT Air Minum (AM) Bandarmasih mencatat penurunan kapasitas pengolahan air hingga 50 persen lantaran sungai yang menjadi sumber air baku terserang intrusi air laut berkadar garam sangat tinggi.

Supervisor Humas PT AM Bandarmasih, Murjani di Banjarmasin, Rabu (9/9), menyampaikan, instrusi air laut masuk ke Sungai Martapura di wilayah Kota Banjarmasin sebagai sumber air baku pengolahan air bersih mengandung kadar garam sangat tinggi, yakni mencapai 8.000 miligram per liter. Tingginya angka tersebut membuat fasilitas pengolahan tidak sanggup memprosesnya menjadi air layak konsumsi.

“Tingginya kadar garam ini tidak bisa diolah,” ujarnya dikutip dari Antaranews, Kamis (10/9).

Imbas tingginya kadar garam tersebut, PAM Banjarmasin terpaksa mengambil tindakan tegas dengan menghentikan operasional intake utama di Sungai Bilu yang biasanya menyuplai kapasitas hingga 600 liter per detik.

“Sumber pengambilan air baku untuk PAM Bandarmasin itu ada tiga, di Sungai Bilu, Sungai Tabuk dan Irigasi, terbesar di Intek Sungai Bilu ini,” paparnya.

Baca juga: Kadar Garam Tembus 4.690 PPM, PAM Bandarmasih Kembali Tutup Intake Sungai Bilu

Penghentian intake Sungai Bilu ini memicu penurunan produksi air bersih hingga 50 persen dari kapasitas normal, yang akhirnya mengganggu distribusi air ke hampir seluruh pelosok kota.

“Mulai dari kawasan Timur, Selatan, Barat, Tengah, hingga Utara,” ujarnya.

Satu-satunya tumpuan penyediaan air baku saat ini tinggal bergantung pada Intake Sungai Tabuk, mengingat jalurnya masih belum tercemar intrusi air laut, sementara jalur irigasi sudah mengering total.

“Sungai Tabuk itu masih nol, masih bisa diambil. Otomatis kita mengambil air baku di Sungai Tabuk saja, untuk irigasi kita sudah lama tidak mendapatkan dari irigasi, karena itu tidak bisa diambil sama sekali karena kering.” kata Murjani.

Kondisi pasokan yang hanya bersumber dari satu titik ini memaksa kapasitas produksi normal sebesar 2.200 liter per detik menyusut drastis, sehingga berdampak langsung pada pelayanan untuk lebih dari 150 ribu pelanggan.

Menanggapi situasi ini, manajemen PT AM Bandarmasih menyiapkan langkah mitigasi berupa pengiriman armada truk tangki, bantuan tandon air 3.000 liter, penerapan sistem distribusi bergilir yakni sebagai contoh, wilayah Timur dan Selatan dialiri air pada pukul 06.00 hingga 12.00 siang, serta penerjunan tim lapangan secara berkala. Selain itu, jajaran manajemen juga telah menggelar salat Istisqa dengan harapan hujan segera turun di wilayah hulu guna menetralisasi kadar garam sungai.

[post-views]
Selaras