Prancis, mu4.co.id – Gelombang panas yang melanda Eropa sejak akhir Juni berkembang menjadi krisis kesehatan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari 1.300 kematian akibat suhu di sejumlah negara menembus 40 derajat Celsius, hingga mengganggu transportasi, membebani layanan kesehatan, dan menguji ketahanan infrastruktur.
Pada Ahad (28/6) sore waktu setempat, suhu di wilayah Brandenburg timur, Jerman, mencapai 41,7 derajat Celsius, memecahkan rekor sebelumnya sebesar 41,5 derajat Celsius yang tercatat sehari sebelumnya di Drewitz.
Suhu ekstrem itu juga mengganggu infrastruktur transportasi. Jalur rel trem mengalami kerusakan, sementara otoritas transportasi di Leipzig menghentikan sementara layanan setelah suhu panas merusak aspal dan bitumen hingga memerlukan pemeriksaan keselamatan.

Sementara itu, Prancis menjadi negara yang paling terdampak dengan sekitar 1.000 kematian sejak gelombang panas dimulai. Sebagian besar korban merupakan lansia berusia di atas 65 tahun.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut Eropa merupakan kawasan yang mengalami pemanasan paling cepat di dunia, dengan laju peningkatan suhu mencapai dua kali rata-rata global.
“Didorong oleh perubahan iklim dan pemanasan global, fenomena gelombang panas yang dahulu hanya terjadi sekali dalam satu generasi kini hampir terjadi setiap tahun,” ungkap Tedros dikutip dari Media Indonesia, Selasa (30/6).
Baca Juga: Panas Ekstrem di Tanah Suci, Ini Tips Dokter Agar Jemaah Haji Tetap Fit!
WHO mengingatkan infrastruktur di banyak negara Eropa belum siap menghadapi suhu ekstrem. Para ahli menjelaskan sebagian besar korban meninggal disebabkan heat stress, yakni kondisi ketika tubuh gagal mengendalikan suhu internal.
“Gelombang panas menimbulkan bahaya kesehatan yang serius, terutama karena menyebabkan stres panas. Kondisi ini dapat berujung pada dehidrasi, kelelahan akibat panas, hingga heatstroke yang merupakan keadaan darurat medis,” jelas Pengajar Grantham Institute–Climate Change and the Environment, Garyfallos Konstantinoudis.
Heatstroke terjadi saat suhu inti tubuh melebihi 40 derajat Celsius, sehingga dapat menyebabkan kebingungan, kehilangan kesadaran, gangguan pernapasan, hingga kegagalan organ. Lansia dan penderita penyakit kronis menjadi kelompok yang paling berisiko mengalami kondisi tersebut.
(Media Indonesia, detik news)















