Jakarta, mu4.co.id – Nilai tukar rupiah melemah 27 poin atau 0,15 persen ke level Rp18.005 per dolar AS pada perdagangan Selasa (29/9). BRI Danareksa Sekuritas menilai tekanan tersebut terjadi seiring penguatan dolar AS.
Indeks dolar AS (DXY) bertahan di level tertinggi dalam dua bulan, didorong kenaikan harga minyak dunia, ekspektasi pengetatan kebijakan moneter The Fed, serta risiko geopolitik.
“Rupiah melemah menembus Rp 18.000 per dollar AS pada Selasa, berbalik dari penguatan sebelumnya di tengah penguatan dollar AS. Indeks dollar AS (DXY) bertahan di dekat level tertinggi dua bulan, didorong kenaikan harga minyak, ekspektasi pengetatan The Fed, dan risiko geopolitik,” tulis BRI Danareksa dikutip dari Kompas, Rabu (30/9).
Baca Juga: BI Dorong BRICS Kurangi Ketergantungan pada Dolar AS lewat Transaksi Mata Uang Lokal
Tekanan rupiah juga dipicu tingginya permintaan valas dari importir dan berlanjutnya arus keluar modal asing dari aset domestik.
Untuk menstabilkan rupiah, Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi melalui pasar NDF offshore, spot domestik, dan DNDF. BI juga mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen selama tiga bulan berturut-turut, setelah menaikkannya total 100 basis poin sejak Mei 2026.
Sementara itu, pasar kini menanti rilis data neraca perdagangan Agustus, inflasi September, dan aktivitas manufaktur pada pekan ini.
(Kompas)














