Media Utama Terpercaya

13 September 2026, 01:11
Search

Kasus Keracunan MBG Hingga Hilang Ingatan, Ini Penjelasan Ahli Neurologi!

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Keracunan MBG
Ilustrasi. [Foto: AI, mu4.co.id]

Karo, mu4.co.id – Kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, pada pertengahan Agustus 2026 lalu berdampak serius pada salah satu korban berinisial FP, siswi SMK Bersama Berastagi.

Menurut keluarga, FP kini mengalami gangguan ingatan hingga disebut kehilangan sekitar 70 persen daya ingat dan tidak mampu mengenali keluarga maupun teman yang menjenguk. Untuk memastikan kaitan antara keracunan dan gangguan neurologis tersebut, FP perlu menjalani pemeriksaan menyeluruh karena secara ilmiah, keracunan dapat berpengaruh terhadap fungsi otak dalam kondisi tertentu.

Penjelasan Ahli Neurologi

Dosen PPDS Neurologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. Wahyu Wihartono, M.Kes., Sp.N., FMIN., menjelaskan bahwa toksin (zat beracun) tertentu dari keracunan makanan dapat mengganggu fungsi otak dan sistem saraf. 

Gangguan ini dapat memengaruhi neurotransmiter yang berperan dalam komunikasi antarsel saraf, sehingga berdampak pada fungsi kognitif, termasuk konsentrasi, kemampuan berpikir, dan daya ingat.

Baca Juga: Banyak Kasus Keracunan MBG, Presiden Prabowo Perintahkan BGN Rekrut Koki Terlatih. Dibuka Lowongan Puluhan Ribu Koki!

“Intoksikasi akibat keracunan makanan memang dapat menyebabkan gangguan fungsi otak. Toksin dapat memengaruhi fungsi neurotransmiter sehingga mengganggu kerja sel-sel otak. Kondisi tersebut dapat menimbulkan gangguan kognitif, termasuk gangguan daya ingat,” jelas Wahyu dikutip dari Kompas, Sabtu (12/9).

Wahyu menegaskan, penyebab gangguan ingatan setelah keracunan tidak dapat langsung dikaitkan dengan toksin. Dokter perlu mempertimbangkan jenis dan tingkat paparan toksin, gejala klinis, riwayat penyakit, serta hasil pemeriksaan penunjang.

Gangguan saraf juga dapat dipicu kondisi lain seperti kekurangan oksigen, gangguan metabolik, atau kejang berkepanjangan. Selain itu, aktivitas neurotransmiter yang berlebihan dapat menyebabkan masuknya ion kalsium ke dalam sel secara berlebihan dan berpotensi merusak sel saraf.

Wahyu mengingatkan tenaga medis untuk mewaspadai gejala neurologis pada kasus keracunan massal seperti gangguan kesadaran, kejang, kesulitan berbicara, perubahan perilaku, kelemahan anggota tubuh, dan gangguan ingatan. 

Baca Juga: Dua Siswi Berprestasi Ciptakan Alat Ini Untuk Cegah Keracunan MBG

Jika gejala tersebut muncul, pasien perlu segera menjalani pemeriksaan menyeluruh untuk menentukan penyebab dan penanganan yang tepat.

Menurutnya, gangguan ingatan tidak selalu menyebabkan kerusakan otak permanen. Anak dan remaja umumnya memiliki kemampuan adaptasi dan pemulihan saraf yang baik meski prosesnya bergantung pada penyebab, tingkat keparahan, luas gangguan, kecepatan penanganan, dan respons terhadap terapi. Ia pun berharap kondisi kognitif FP segera pulih.

“Namun, perkembangannya tetap harus dipantau. Penanganan perlu disesuaikan dengan penyebabnya serta diarahkan untuk memulihkan fungsi saraf dan mencegah kondisi berkembang menjadi lebih berat,” jelasnya.

(Kompas)

[post-views]
Selaras