Banjarmasin, mu4.co.id – Di tengah kekhawatiran terhadap krisis energi, warga Banjarmasin justru menghadirkan solusi dari lingkungan sekitar. Masyarakat Kelurahan Gadang berhasil mengembangkan inovasi pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif yang dikenal dengan nama “petasol”.
Inisiatif ini bermula dari aktivitas bank sampah yang sebelumnya hanya berfokus pada pengumpulan dan penjualan limbah. Berkat dorongan Lurah Gadang, Anisa Ellina, warga kemudian mencoba mengolah sampah plastik menjadi sesuatu yang lebih bernilai guna.
“Awalnya kami melihat warga datang ke bank sampah untuk menjual dan membeli sampah. Dari situ muncul gagasan, kenapa tidak kita olah menjadi sesuatu yang lebih bernilai,” ujarnya dilansir dari kalselpos.com, Ahad (5/4).
Baca juga: DLH Kalsel Bagikan 2.000 Lebih Fasilitas Pengelolaan Sampah. Dimana Saja?
Dalam proses pengembangannya, pihak kelurahan turut bekerja sama dengan perguruan tinggi untuk merancang metode sederhana dalam mengubah limbah plastik menjadi bahan bakar. Hasilnya, petasol kini mulai dimanfaatkan sebagai alternatif pengganti elpiji untuk kebutuhan rumah tangga.
“Melalui kolaborasi ini, warga bisa memanfaatkan petasol sebagai bahan bakar untuk memasak sehari-hari. Ini solusi nyata di tengah mahalnya energi,” kata Anisa.
Proses pembuatannya pun relatif mudah dan dapat dilakukan secara mandiri. Berbagai jenis sampah plastik seperti botol, tutup botol, styrofoam, hingga kantong plastik dipanaskan dengan api kecil hingga menghasilkan cairan bahan bakar.
Baca juga: ULM Kini Resmi Kantongi Lisensi IELTS, Pertama di Kalsel!
Salah satu warga, Ahmad Riyadi, anggota Bank Sampah Sumber Rezeki, menyebut inovasi ini memberi manfaat ganda. Selain membantu mengurangi timbunan sampah, program tersebut juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat.
“Selain mengurangi limbah, ini juga memberi nilai tambah. Sampah yang tadinya tidak bernilai kini bisa jadi sumber energi,” jelasnya.
Ke depan, Kelurahan Gadang berencana memperluas pengembangan petasol dengan dukungan peralatan yang lebih modern agar kapasitas produksi dapat meningkat dan manfaatnya semakin dirasakan luas oleh masyarakat.
“Kami ingin inovasi ini bisa ditiru daerah lain, khususnya para pegiat 3R. Nanti juga akan kami anggarkan mesin agar produksinya lebih maksimal,” ucapnya.
(Kalsel Pos, RRI)












