Media Utama Terpercaya

21 Maret 2026, 22:20
Search

Harga Emas Dunia Anjlok Akibat Perang Timur Tengah, Kenaikan Dolar AS, dan Suku Bunga

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram
Print
Harga Emas Dunia Anjlok
Harga Emas Dunia Anjlok [Foto: Ilustrasi mu4.co.id]

Jakarta, mu4.co.id – Harga emas dunia semakin merosot pada akhir pekan ini. Secara mingguan, harga emas bahkan jatuh ke rekor terburuk sejak Maret 1983 atau 43 tahun terakhir.

Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (20/03/2026) ditutup di posisi US$ 4494,02 per troy ons. Harganya anjlok 3,32%. Pelemahan ini juga memperpanjang derita emas dengan anjlok 13,43% dalam delapan hari beruntun.

Penurunan harga emas tersebut usai laporan menyebut Amerika Serikat (AS) akan mengerahkan tambahan pasukan ke Timur Tengah. Hal itu memicu kekhawatiran akan kenaikan harga minyak, inflasi, dan pada akhirnya suku bunga yang lebih tinggi.

Indeks dolar menguat, sementara pembelian emas dikonversi dalam dolar AS sehingga kenaikan dolar membuat harga konversi lebih mahal dan menekan permintaan. Emas juga tidak menawarkan imbal hasil sehingga tidak menarik saat imbal hasil obligasi menguat. Kondisi ini membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga menekan permintaan global.

Baca juga: Angka Inflasi Kalsel Tembus 5,97 Persen, Listrik dan Emas Jadi Pemicu

“Emas dan perak terseret turun karena pasar menghadapi ‘tembok kekhawatiran’ menjelang akhir pekan. Dua Jumat terakhir mencatat reli harga minyak mentah, yang memicu penguatan dolar AS serta aksi jual di saham, obligasi, dan logam, yang kini bergerak seiring aset lain sejak perang dimulai,” lapor Reuters.

Lebih lanjut dikatakan bahwa logam mulia mengalami penurunan tajam minggu ini akibat kekhawatiran kenaikan suku bunga. “Logam mulia menjadi sangat volatil setelah penurunan tajam minggu ini akibat kekhawatiran kenaikan suku bunga. Kemungkinan akan segera konsolidasi, tetapi pergerakannya tetap akan bergejolak.”imbuhnya.

Emas dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian, namun kenaikan suku bunga mengurangi daya tarik aset ini karena tidak memberikan imbal hasil.

Sejumlah broker global besar melihat kemungkinan lebih tinggi bahwa Bank Sentral Eropa dan Bank of England akan menaikkan suku bunga, bahkan berpotensi secepat April.

Sementara itu, The Federal Reserve mempertahankan suku bunga pada Rabu lalu dan memproyeksikan inflasi yang lebih tinggi. Ketua The Fed, Jerome Powell, mengatakan arah kebijakan ke depan sangat tidak pasti akibat perang.
(cnbcindonesia.com, investor.id)

[post-views]
Selaras