Media Utama Terpercaya

25 Mei 2026, 23:01
Search

Storage SPBU Disebut Jadi Biang Kendala Biosolar pada Armada Bus

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Storage SPBU Disebut Jadi Biang Kendala Biosolar pada Armada Bus
Ilustrasi. [Foto: AI, mu4.co.id]

Jakarta, mu4.co.id – Rencana penerapan mandatori biosolar B50 mulai Juli mendatang memunculkan kekhawatiran di kalangan pengusaha transportasi darat. Sebab, penggunaan biosolar B35 dan B40 saat ini saja sudah menimbulkan berbagai kendala teknis pada armada bus.

Pengusaha otobus menilai peningkatan campuran minyak sawit dalam solar berpotensi mempercepat kerusakan komponen mesin bus modern. 

Ketua Umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) Kurnia Lesani Adnan menyebut persoalan utama biodiesel bukan pada teknologinya, melainkan sistem penyimpanan bahan bakar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

“Masalah storage di SPBU ini sangat signifikan terjadi pada saat pancaroba, dari panas ke dingin. Terjadi kondensasi. Pemisahan antara nabati dan fosilnya sangat terjadi lebih cepat,” ungkap Kurnia Lesani dikutip dari Kompas, Senin (25/5).

Baca Juga: Kelangkaan BBM Subsidi di Kalsel, Pemprov Kalsel Gandeng TNI-Polri Untuk Segera Bentuk Satgas!

Ia menjelaskan dispenser di SPBU hanya menyalurkan bahan bakar tanpa proses pencampuran ulang di tangki bawah tanah. Kondisi itu membuat kandungan nabati yang terpisah akibat cuaca berpotensi ikut tersedot ke tangki bus.

“Begitu masuk ke tangki kita, disaring, filter jadi menggel. Jadi filter itu kayak jelly dia, karena menangkap nabatinya dan air,” jelasnya.

Akibat solar yang berubah seperti gel, performa bus bisa menurun hingga tersendat di jalan karena filter bahan bakar tersumbat. Kondisi itu membuat awak bus harus membawa filter cadangan saat perjalanan.

Kurnia Lesani mengatakan penggunaan biodiesel juga berpotensi memperpendek usia komponen penting seperti injektor dan fuel pump. Ia pun menilai hasil uji coba B50 yang diklaim aman berbeda dengan kondisi operasional bus AKAP di berbagai daerah.

Baca Juga: Uji Coba Perdana Biodiesel B50 di Kereta Api Dimulai, Indonesia Jadi yang Pertama di Dunia

“Mereka bicara teori. ESDM bilang enggak ada masalah kalau pada saat ngetes. Ya iya, ngetesnya cuma sebulan sama berapa ribu kilometer doang. Sementara kami kan jangka panjang dan menjadi dilema,” tuturnya.

Untuk menghadapi penerapan B50 dan mengurangi dampak biodiesel, sejumlah operator bus memasang alat tambahan berupa katalisator bermagnet pada jalur bahan bakar armada. 

Alat seharga Rp10 juta hingga Rp15 juta itu digunakan untuk memisahkan kandungan air sebelum solar masuk ke mesin.

Kurnia Lesani menilai, meski sejumlah pabrikan bus mengklaim kompatibel dengan B50, persoalan utama justru berada pada sistem penyimpanan bahan bakar di lapangan.

(Kompas)

[post-views]
Selaras