Banjarmasin, mu4.co.id – Majelis Tabligh dan Ketarjihan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kota Banjarmasin menggelar kegiatan Gerakan Perempuan Mengaji di Lantai 2 Masjid Al Jihad Banjarmasin, Selasa (21/7).
Kegiatan ini menghadirkan dr. Hj. Hamita, Sp.THT-BKL, seorang dokter spesialis Telinga, Hidung, Tenggorok, Bedah Kepala, dan Leher (THT-BKL), yang memberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan telinga dan mengenali gejala gangguan pendengaran sejak dini.
Dalam penyampaiannya, dr. Hamita menjelaskan bahwa gangguan pada saraf pendengaran dapat ditandai dengan penurunan kemampuan mendengar secara bertahap maupun mendadak, suara terdengar teredam, hingga kesulitan memahami percakapan di tempat ramai.
“Jika mengalami gejala-gejala tersebut, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter THT agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani sedini mungkin,” ujar dr. Hamita kepada para peserta yang hadir.
Ia menjelaskan, penanganan gangguan pendengaran dapat dilakukan menggunakan alat bantu dengar, bahkan pada kondisi tertentu melalui implan koklea.
Menurutnya, prosedur ini umumnya diberikan kepada anak yang mengalami tuli sejak lahir karena kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan berbicara. Meski demikian, penerapan implan koklea di Indonesia masih tergolong terbatas.
Selain itu, meskipun jarang ditemui, dr. Hamita mengingatkan bahwa gangguan pendengaran juga dapat dipicu infeksi virus, termasuk yang dikenal masyarakat sebagai gondongan atau “kebagusan”.

Ia juga meluruskan anggapan bahwa mengoleskan blau dapat menyembuhkan kebagusan. Menurutnya, cara yang tepat adalah mengompres dengan air hangat atau dingin serta memperbanyak konsumsi air putih.
Dalam kesempatan tersebut, dr. Hamita turut meluruskan sejumlah anggapan yang keliru di masyarakat, salah satunya bahwa kotoran telinga basah tidak berkaitan dengan produksi keringat berlebih.
Ia juga membagikan beberapa cara sederhana untuk menjaga kesehatan pendengaran, khususnya bagi lansia, seperti menghindari paparan suara bising, membatasi penggunaan headset maksimal satu jam sehari, membersihkan telinga setiap tiga hingga enam bulan di klinik THT, serta tidak menggunakan cotton bud karena dapat mendorong kotoran semakin masuk ke dalam telinga dan berisiko menimbulkan infeksi maupun jamur.
“Setelah berwudu atau keramas, cukup keringkan bagian luar telinga menggunakan kain bersih atau tisu. Jaga telinga tetap kering,” pesannya.

Terkait penggunaan obat tetes telinga, dr. Hamita menegaskan bahwa cairan tersebut hanya membantu melunakkan kotoran. Proses pembersihan tetap sebaiknya dilakukan oleh dokter atau tenaga medis yang ahli agar tidak menimbulkan risiko pada telinga.
Sementara itu, Ketua Pelaksana kegiatan, Hj. Yasmina Hikmah, bersyukur kegiatan Gerakan Perempuan Mengaji yang diselenggarakan Majelis Tabligh dan Ketarjihan PDA Kota Banjarmasin dapat berlangsung dengan lancar.
“Alhamdulillah, Gerakan Perempuan Mengaji Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kota Banjarmasin yang diselenggarakan oleh Majelis Tabligh dan Ketarjihan, dengan PCA Banjarmasin 10 sebagai petugas telah berlangsung dengan lancar,” ucap Hj Yasmina.
Menurutnya, materi yang disampaikan dr. Hamita memberikan pemahaman penting mengenai kesehatan telinga sebagai salah satu nikmat yang patut disyukuri. Ia menyampaikan, gangguan pendengaran tidak selalu disebabkan oleh faktor usia, tetapi juga dapat dipicu oleh kebiasaan yang kurang baik, seperti terlalu sering menggunakan headset.
“Harapannya, melalui kegiatan ini kita semua dapat menjaga kesehatan indera pendengaran agar tetap baik, sehingga kita terus bisa mendengar ayat-ayat suci Al-Qur’an, suara adzan, serta ceramah agama dari ustaz dan ustazah kita,” tuturnya.













![Muhammadiyah Jadi Satu-satunya Delegasi Indonesia di Forum Kesehatan Mental Muslim Inggris [Foto: muhammadiyah.or.id]](https://mu4.co.id/wp-content/uploads/2026/07/muhammadiyah-jadi-satu-satunya-delegasi-indonesia-di-forum-kesehatan-mental-muslim-inggris-edited-300x225.webp)
