Media Utama Terpercaya

6 Juli 2026, 15:15
Search

Status Gunung Anak Krakatau Naik Jadi Siaga, Warga Pesisir dan Kapal di Selat Sunda Diminta Waspada

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Status Gunung Anak Krakatau Naik Jadi Siaga
Status Gunung Anak Krakatau Naik Jadi Siaga [Foto: Antara]

Banten, mu4.co.id – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral resmi menaikkan status Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Banten menjadi Level III (Siaga) dari sebelumnya Level II (Waspada), mulai Kamis (02/07/2026) pukul 16.30 WIB.

Warga di sekitar pesisir pantai dan kapal-kapal yang melintas di Selat Sunda diminta waspada.

“Sehubungan dengan peningkatan status aktivitas Gunung Anak Krakatau di Perairan Selat Sunda menjadi Level III (Siaga) berdasarkan informasi resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), dengan ini disampaikan kepada seluruh nakhoda, pemilik/pengusaha kapal, perusahaan pelayaran, agen kapal, serta seluruh pengguna jasa angkutan laut yang melaksanakan pelayaran di perairan Selat Sunda agar meningkatkan kewaspadaan demi keselamatan pelayaran,” kata Kepala Kantor KSOP Kelas I Banten, Raden Yogie Nugraha, dalam keterangannya, Sabtu (04/07/2026).

Baca juga: Gunung Dukono di Halmahera Utara Erupsi, 3 Orang Meninggal Dunia!

Adapun keputusan naiknya status Aktivitas Gunung Anak Krakatau  tersebut diambil setelah hasil pemantauan menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan dalam beberapa pekan terakhir.

Diketahui, sejak awal Juni 2026, satelit Sentinel telah mendeteksi emisi gas sulfur dioksida (SO₂), anomali panas, serta munculnya titik api di kawah. Pada saat yang sama, aktivitas gempa vulkanik dangkal seperti gempa hembusan, hybrid/fase banyak, dan low frequency melonjak tajam. Bahkan dalam dua hari, yakni 18–19 Juni 2026, jumlah gempa dangkal mencapai lebih dari 50 kejadian per hari, menandakan adanya pergerakan magma yang semakin intens di dekat permukaan.

Selama periode 16 Juni hingga 2 Juli 2026, Badan Geologi mencatat sedikitnya 740 gempa hembusan, 520 gempa hybrid/fase banyak, 247 gempa low frequency, 24 gempa harmonik, 16 tremor menerus, serta sejumlah gempa vulkanik dangkal dan dalam. Grafik pemantauan juga menunjukkan kecenderungan inflasi pada Stasiun Tiltmeter Tanjung, yang mengindikasikan adanya tekanan magma meski masih dalam skala rendah.

Puncak peningkatan aktivitas terjadi pada 2 Juli 2026 pukul 14.05 WIB, ketika Anak Krakatau mengalami erupsi dengan kolom abu mencapai sekitar 200 meter di atas puncak atau sekitar 357 meter di atas permukaan laut. Abu vulkanik berwarna kelabu hingga hitam tampak mengarah ke barat laut dan terekam dengan amplitudo maksimum 23 milimeter selama sekitar 20 detik.

Sementara itu, Badan Geologi menegaskan masyarakat dapat tetap beraktivitas seperti biasa dengan tetap mengikuti arahan dari BPBD dan otoritas setempat. Pihaknya juga memastikan perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau akan terus dipantau secara intensif. Di sisi lain, masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir Provinsi Banten dan Lampung juga diharapkan tidak mudah mempercayai isu-isu mengenai potensi tsunami akibat erupsi Anak Krakatau.
(detik.com, ruangenergi.com)

[post-views]
Selaras