Jakarta, mu4.co.id – Ketegangan telah meningkat di Asia Tenggara, khususnya di Selat Malaka yang berada di antara Indonesia, Malaysia, dan Singapura, sekaligus menghubungkan Samudera Hindia dan Pasifik, seiring dengan penutupan Selat Hormuz dalam beberapa minggu terakhir.
Presiden Amerika Serikat (AS), Trump sangat menentang negosiasi dengan Iran untuk membayar tarif di Selat Hormuz, meski sejauh ini hanya sedikit kapal yang dilaporkan mampu melintas. Karena perairan di sekitar Selat Malaka menjadi salah satu titik penting bagi praktik transfer minyak antar kapal oleh ‘kapal gelap’ Iran ke negara-negara di Asia, utamanya China.
Diketahui, Selat Malaka yang titik tersempitnya hanya sekitar 2,7 km — 10 kali lebih sempit dari Selat Hormuz itu, dilalui sekitar 40 % perdagangan global, termasuk sebagian besar aliran minyak dari Timur Tengah ke negara-negara ekonomi kuat di Asia seperti China, Jepang, dan Korsel.
“Meskipun saya tidak menunjukkan adanya bahaya nyata dan langsung yang ada saat ini bagi Selat Malaka, siapa pun yang khawatir tentang persenjataan jalur maritim yang rawan konflik harus memikirkan cara mengelola kerentanan geopolitik ke depan. Apa yang tampaknya tidak terpikirkan hari ini seharusnya tidak dianggap sebagai sesuatu yang mutlak,” kata direktur program penelitian perdagangan internasional di Hinrich Foundation di Singapura, dilansir dari kumparan.com, Senin (20/04/2026).
Baca juga: Ditengah Gencatan Senjata Israel-lebanon, Iran Sempat Buka Selat Hormuz, Lalu Ditutup Lagi!
Selat Hormuz tetap menjadi jalur energi paling penting di dunia, Selat Malaka adalah jalur utama bagi rantai manufaktur dan pasokan energi Asia dengan sekitar 82 ribu kapal melintas setiap tahunnya. Selat Malaka juga 5 kali lebih panjang dibandingkan Selat Hormuz, sehingga memberikan ruang lingkup yang cukup besar untuk terjadinya gangguan.
Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto menekankan kedekatan geografis Indonesia dengan Selat Malaka sebagai sumber kekuatan geopolitik sambil memperdalam kerja sama militer dengan AS. Ia menyoroti sekitar 70 % energi dan perdagangan Asia Timur melewati perairan Indonesia, termasuk Selat Malaka.
“Apakah kita menyadari betapa pentingnya Indonesia? Betapa strategis dan pentingnya posisi kita? Kita harus memahami bahwa kita selalu menjadi fokus perhatian dunia,” kata Prabowo beberapa waktu lalu.
Salah seorang pejabat pemerintah Indonesia mengatakan kesepakatan dengan AS lebih tentang peningkatan kerja sama yang sudah ada daripada pergeseran strategis apa pun. Prioritas Indonesia adalah menjaga selat tetap stabil dan bebas konflik, dan tidak ada keinginan untuk memfasilitasi tekanan AS terhadap negara lain.
Dalam sebuah pernyataan, juru bicara Kemhan RI mengatakan kesepakatan dengan AS dapat membuka kesempatan yang lebih terarah dalam modernisasi pertahanan, peningkatan kapasitas, pendidikan dan pelatihan militer profesional, serta latihan dan kerja sama operasional.
“Semua implementasinya tetap dalam kerangka kepentingan nasional, politik luar negeri bebas dan aktif, menghormati kedaulatan negara, dan berdasarkan mekanisme resmi pemerintah Indonesia,” kata jubir Kemhan.













