Jakarta, mu4.co.id – Istilah Sell Indonesia dan Sell Singapore ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial, banyak yang penasaran dengan makna sebenarnya dari dua istilah tersebut.
Tagar #SellSingapore bahkan menjadi perbincangan hangat setelah muncul berbagai narasi yang mengaitkan hubungan ekonomi Indonesia dan Singapura. Sementara itu, istilah Sell Indonesia sebelumnya sempat digunakan sejumlah pihak yang menilai kondisi ekonomi Indonesia tengah menghadapi tekanan.
Istilah Sell Indonesia sendiri mulai ramai setelah sejumlah media dan pelaku pasar menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah serta pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mengalami tekanan. Dalam dunia investasi, kata sell berarti menjual aset atau melepas kepemilikan investasi. Karena itu, Sell Indonesia dapat dimaknai sebagai pandangan bahwa investor sebaiknya mengurangi eksposur investasi di Indonesia karena dianggap sedang menghadapi sejumlah risiko ekonomi, namun narasi tersebut tidak berlangsung lama.
Baca juga: Tak Ambil Pusing Soal #KaburAjaDulu, Wamenaker Sebut Kabur Saja, Kalau Perlu Jangan Balik Lagi
Di tengah itu, muncul tagar #SellSingapore yang kemudian viral di media sosial Indonesia. Tagar tersebut lebih sering digunakan sebagai bentuk kritik terhadap fenomena ekonomi yang dianggap membuat nilai ekonomi Indonesia banyak mengalir ke luar negeri.
Salah satu isu yang kerap diangkat adalah banyaknya perusahaan yang menjalankan bisnis utama di Indonesia, namun memiliki perusahaan induk, pusat investasi, atau kantor regional di Singapura. Kondisi ini membuat sebagian masyarakat mempertanyakan mengapa nilai ekonomi yang tumbuh dari pasar Indonesia justru banyak dihimpun di pusat keuangan luar negeri. Karena itu bagi sebagian kalangan, istilah Sell Singapore kemudian berkembang menjadi simbol keinginan agar Indonesia semakin mandiri dalam mengelola kekuatan ekonominya sendiri.
Di media sosial, sebagian warganet tidak hanya menggunakan tagar #SellSingapore, tetapi juga menyerukan penggunaan produk dalam negeri dan mengurangi penggunaan layanan yang dianggap berasal dari Singapura.
“Gaes memastikan untuk terus menggunakan produk-produk Indonesia, tidak menggunakan Shopee, tidak menggunakan Grab, dan tidak menggunakan produk-produk yang berkaitan dengan Singapura. Jangan memberikan toleransi kepada pihak-pihak yang berada di balik melemahnya rupiah kita. Saat ini, kita sedang berupaya melawan pihak-pihak yang dianggap sebagai penyebab utama tindakan tersebut, dan perlahan nilai rupiah kita mulai pulih,” tulis salah satu akun X bernama Dino disertai tagar #SellSingapore.
Meski demikian, hingga kini tagar #SellSingapore lebih banyak berkembang sebagai perdebatan dan ekspresi opini di media sosial. Belum ada gerakan resmi maupun kebijakan yang terkait dengan penggunaan tagar tersebut.
(bloombergtechnoz.com)















