Media Utama Terpercaya

30 Mei 2026, 21:14
Search

Perang Belum Usai, Sudah 3 Tahun Warga Gaza Tak Bisa Tunaikan Ibadan Haji dan Kurban

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Kondisi Gaza pada Januari 2026
Kondisi Gaza pada Januari 2026. [Foto: CGTN News]

Gaza, mu4.co.id – Ribuan warga Palestina di Jalur Gaza kembali gagal menunaikan ibadah haji pada tahun ini. Kondisi ini menjadi tahun ketiga berturut-turut warga Gaza tidak dapat berangkat ke Tanah Suci akibat konflik dan pembatasan perbatasan yang masih berlangsung.

Selain itu, mereka juga kembali tidak dapat melaksanakan penyembelihan hewan kurban karena sektor peternakan terdampak konflik dan masuknya hewan ternak ke Gaza dibatasi. 

Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina mencatat lebih dari 10.000 warga kehilangan kesempatan berhaji sejak perang pecah pada Oktober 2023, bahkan sebagian calon jemaah meninggal dunia sebelum sempat berangkat.

Meski penyeberangan Rafah sempat dibuka secara terbatas, akses tersebut lebih banyak digunakan untuk evakuasi medis dan kebutuhan kemanusiaan. Bagi warga Gaza, tertundanya haji bukan sekadar masalah perjalanan, melainkan hilangnya kesempatan menjalankan salah satu rukun Islam.

Baca Juga: Replika Mobil Bocah Gaza yang Ditembak 335 Kali Dipamerkan, Pelaku Komandan Dilaporkan ke ICC!

“Kami seharusnya berada di sana pada hari-hari suci ini,” ungkap salah satu warga Palestina, Najia Abu Lehia (64), dikutip dari Himpuh pada Sabtu (30/5).

Najia mengaku dirinya dan sang suami telah mempersiapkan keberangkatan haji sebelum perang pecah, namun seluruh rencana itu akhirnya batal akibat konflik yang berkepanjangan.

Konflik juga melumpuhkan sektor haji dan umrah di Gaza. Studi Pusat Studi Politik Palestina (PCPS) menyebut 78 perusahaan perjalanan haji dan umrah berlisensi mengalami keruntuhan dengan banyak kantor rusak atau hancur akibat perang. Kerugian sektor ini diperkirakan mencapai jutaan dolar AS, termasuk dana yang masih tertahan pada maskapai dan hotel di Arab Saudi maupun Mesir.

Sebelum perang, sektor haji dan umrah menyumbang sedikitnya US$12 juta per tahun bagi perekonomian Gaza dan menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari 1.500 pekerja. 

Selain itu, ketidakpastian akses keluar masuk Gaza membuat otoritas setempat tidak dapat melakukan persiapan penyelenggaraan haji sebagaimana biasanya.

“Kami tidak dapat menyelenggarakan musim (haji) ini karena kami tidak diberi jaminan bahwa perbatasan akan dibuka,” ujar Rami Abu Staitah, Direktur Jenderal Haji dan Umrah di Kementerian Wakaf.

“Persiapan membutuhkan kontrak awal yang kompleks untuk perumahan dan transportasi, yang tidak mungkin dilakukan dalam kondisi ini,” tambahnya.

Baca Juga: Meski Tengah Agresi Militer, Warga Gaza Tunjukkan Kepedulian Kirim Donasi Bencana di Sumatra. Segini Nilainya!

Kementerian Wakaf Palestina mendesak komunitas internasional termasuk Arab Saudi dan Mesir untuk membantu memastikan pelaksanaan ibadah haji tidak terdampak situasi politik.

Sementara itu, warga Gaza juga kembali tidak dapat melaksanakan kurban pada Idul Adha tahun ini. Kerusakan parah sektor peternakan dan blokade masuknya hewan ternak menjadi penyebab utama.

Data Kamar Dagang Gaza menunjukkan lebih dari 90 persen sektor peternakan mengalami kerusakan sejak konflik dimulai. Bahkan, menurut Food and Agriculture Organization, sekitar 80 persen populasi domba dan 70 persen kambing di Gaza telah mati atau terbunuh selama perang berlangsung. 

Kondisi ini memperburuk krisis kemanusiaan yang membuat sebagian besar warga masih hidup di pengungsian dan bergantung pada bantuan terbatas.

(Himpuh)

[post-views]
Selaras