Media Utama Terpercaya

18 Oktober 2026, 08:30
Search

Menikmati Keindahan Sunset Laut Merah di Jeddah Waterfront Park

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Jeddah Waterfront Park
Jeddah Waterfront Park [Foto: mu4.co.id]

Jeddah, mu4.co.id – Sore itu, terik matahari khas Arab Saudi perlahan melunak, membiarkan kehangatan yang lembut menyapa kulit. Menyempatkan mampir di jalur pejalan kaki yang terbentang rapi di “Jeddah Corniche“, sebuah kawasan pedestrian modern yang berada tepat di tepi “Laut Merah” (Red Sea).

Menjelang pukul lima sore, langkah kaki terasa sangat ringan di atas promenade yang bersih dan tertata indah. Di sepanjang jalur pejalan kaki ini, pohon-pohon kurma berbaris anggun, mengapit tugu-tugu seni kontemporer dan taman-taman hijau yang terawat. Namun, magnet terbesar sore itu adalah Laut Merah yang terhampar luas di sebelah barat, memancarkan kilau keemasan saat sang surya mulai turun menuju garis horizon.

Makin dekat ke waktu sunset, suasana di sepanjang pesisir ini makin hidup. Tampak banyak warga lokal kota Jeddah—keluarga yang membawa tikar piknik dan kursi lipat, rombongan anak muda yang bersenda gurau, hingga para lansia—duduk-duduk santai (nongkrong) di tepian tanggul batu dan bangku-bangku taman. Anak-anak kecil berlarian gembira, ada pula yang asyik bermain sepatu roda di atas trotoar yang mulus.

Jeddah Waterfront Park (Foto: mu4.co.id)

Baca juga: Menapakkan Kaki di Museum Wahyu: Menyelami Detik-Detik Turunnya Al-Qur’an di Kaki Jabal Nur

Merasakan Semilir Angin Laut Merah
Sembari berjalan santai, embusan angin laut (sea breeze) bertiup lembut menerpa wajah. Udara sore yang sejuk perlahan mengikis hawa panas siang hari, membuat siapa saja betah berlama-lama duduk menatap ombak kecil yang bergulung perlahan membasahi tepian.

Detik-detik menuju matahari terbenam adalah puncaknya. Sang surya berubah menjadi bola jingga pekat yang perlahan tenggelam menembus cakrawala Laut Merah. Kilatan warna oranye, merah muda, dan keunguan membingkai langit sore Jeddah—sebuah pemandangan dramatis yang membuat banyak orang tertegun sejenak dan memburu momen ini dengan kamera ponsel mereka.

Momen Menjelang Matahari Terbenam

Menelusuri promenade yang tertata rapi di Jeddah Waterfront terasa begitu menenangkan. Di satu sisi, pepohonan kurma dan taman-taman hijau yang terawat memberi nuansa asri, sementara di sisi lain, membentang luas Laut Merah yang berkilau tertimpa cahaya mentari sore.

Semilir angin laut (sea breeze) berembus lembut, membawa kesegaran yang mengikis rasa lelah setelah seharian beraktivitas. Berjalan santai di sini, ditemani suara deburan ombak halus dan aroma khas laut, membuat langkah kaki terasa begitu ringan.

Tepian laut Merah (Foto: mu4.co.id)

Di sekeliling, suasana begitu hidup. Warga lokal Jeddah, mulai dari anak-anak muda, rombongan keluarga, hingga lansia, tampak memadati tepian laut. Banyak dari mereka menggelar tikar di atas rumput taman atau duduk bersantai di bangku-bangku kayu. Ada yang asyik mengobrol sambil menikmati camilan lokal dan kopi Arab (qahwa) yang harum beraroma kapulaga. Anak-anak berlarian riang di area bermain, sementara para pemuda sibuk mengabadikan momen sunset dengan kamera ponsel mereka.

Saat sang surya perlahan tenggelam di balik cakrawala Laut Merah, suasana mendadak menjadi tenang. Cahaya merah keemasan memantul indah di atas permukaan air laut. Semua mata tertuju ke barat, menikmati detik-detik keindahan alam ciptaan-Nya yang begitu memukau.

Baca juga: Imbas Serangan Rudal Houthi, Bandara Riyadh Ditutup! Menhub Buka Suara

Sejarah Islami di Pesisir Laut Merah
Sambil menatap lautan yang luas ini, kenangan kita akan terbawa pada jejak sejarah Islam yang sangat panjang. Laut Merah bukan sekadar batas wilayah, melainkan saksi bisu berbagai peristiwa besar dalam peradaban.

Jalur Para Nabi dan Sahabat. Laut Merah merupakan kawasan yang menghubungkan Jazirah Arab dengan benua Afrika (seperti kisah Mukjizat Nabi Musa Alaihissalam yang membelah laut ini, meski terjadi di sisi utara).

Selain itu kawasan Jeddah ini menjadi gerbang utama perjalanan haji (Gerbang Haramain). Sejak masa Khalifah Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu pada tahun 647 M, Jeddah resmi ditetapkan sebagai pelabuhan utama bagi para jemaah haji dan umrah yang datang melalui jalur laut dari seluruh penjuru dunia. Selama berabad-abad, jutaan umat Muslim berlabuh di pesisir ini sebelum melanjutkan perjalanan suci ke Makkah Al-Mukarramah.

Semakin Malam, Semakin Hidup

Seiring malam yang makin larut, bukannya sepi, suasana di Jeddah Waterfront justru semakin ramai dan meriah. Lampu-lampu hias di sepanjang jalan dan taman menyala terang, memancarkan warna-warni yang indah.

Keluarga-keluarga baru berdatangan untuk menikmati makan malam lesehan di tepi laut, kafe-kafe di sepanjang koridor jalan mulai dipenuhi pengunjung, dan angin malam Laut Merah terus bertiup memberikan kesejukan. Jeddah benar-benar menunjukkan julukannya sebagai “Jeddah Ghair” (Jeddah yang Berbeda)—kota yang tidak pernah tidur, menyambut siapa saja dengan kehangatan dan keindahan pesisirnya.

[post-views]
Selaras