Jakarta, mu4.co.id – Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz yang kembali memanas berdampak terhadap ketidakstabilan harga energi dan minyak mentah dunia, dan turut berdampak pada harga bahan bakar minyak (BBM).
Diketahui, pada perdagangan hari Kamis (10/09/2026) sempat tembus diatas US$ 100 per barel. AS dan Iran saling melancarkan serangan, sementara Houthi yang didukung Iran menyerang Arab Saudi dan memicu ketegangan di Selat Bab al-Mandab.
Eskalasi yang tak kunjung mereda itupun membuat para pedagang memborong banyak minyak mentah untuk bersiap menghadapi gangguan pasokan yang lebih berkepanjangan, secara otomatis membuat harga minyak dunia melonjak.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Tembus US$101/Barel, Bagaimana Nasib Harga BBM?
Menanggapi hal itu, Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto menilai situasi saat ini jauh lebih pelik dibandingkan masa konflik Ukraina dan Rusia sebelumnya. Sebab dampak dari perang di Timur Tengah membuat harga minyak dunia belum menunjukkan tanda-tanda stabil atau mengalami penurunan signifikan.
“Katanya hari ini harga dunia, BBM juga sedang naik lagi dibandingkan, jadi kalau berharap turun US$ 70 per barel atau US$ 60 per barel sebelum terjadinya krisis geopolitik, ya kita doakan mungkin semoga itu bisa terjadi dalam waktu segera,” ujarnya, Jumat (11/09/2026).
Eko menambahkan jika tren harga minyak global terus bertahan tinggi tanpa adanya indikasi penurunan, harga produk bahan bakar non subsidi, seperti Pertamax bisa berpotensi mengalami penyesuaian hingga ke level Rp 20 ribu per liter.
“Karena kalau tidak kondisi ini akan berdampak seperti sekarang, harga Pertamax dan lain-lain itu akan berkisar antara di angka Rp 18-20 ribuan, karena belum ada indikasi terjadi penurunan harga minyak dunia,” imbuh Eko.
(detik.com)













