Media Utama Terpercaya

17 Agustus 2026, 12:00
Search

Ketegangan Selat Hormuz Memanas, Sejumlah Maskapai Tunda Penerbangan ke Timur Tengah, Apa Saja?

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
penerbangan ke Timur Tengah
Sejumlah Maskapai Tunda Penerbangan ke Timur Tengah [Foto: Reuters]

Jakarta, mu4.co.id – Sejumlah maskapai internasional masih memperpanjang penangguhan penerbangan menuju beberapa negara di Timur Tengah, karena dipengaruhi ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz

Situasi keamanan yang belum stabil membuat sejumlah maskapai memilih menunda pembukaan kembali rute penerbangan mereka, meski sejumlah maskapai regional mulai kembali mengoperasikan penerbangan dengan jadwal terbatas.

Beberapa maskapai internasional memperpanjang pembatalan atau penangguhan penerbangan ke sejumlah destinasi di Timur Tengah setelah European Union Aviation Safety Agency (EASA) memperpanjang imbauan bagi maskapai untuk menghindari wilayah udara Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Kuwait, Oman, dan Qatar hingga 31 Agustus 2026, berkaitan dengan risiko keamanan akibat aktivitas militer di kawasan. Mereka menilai penggunaan rudal, drone, pesawat tempur, dan sistem pertahanan udara dapat membahayakan penerbangan sipil.

Baca juga: Daftar 10 Maskapai Tawarkan Hotel Gratis dan Visa Untuk Penumpang Saat Transit

Berikut Daftar Maskapai Internasional yang Memperpanjang Penangguhan:

  • Air Canada menunda penerbangan menuju Dubai dan Tel Aviv hingga pertengahan Januari 2027.
  • Air Baltic membatalkan penerbangan menuju Dubai hingga 24 Oktober 2026.
  • Air France menangguhkan penerbangan menuju Riyadh hingga 14 Agustus. Penerbangan menuju Dubai dan Beirut dijadwalkan kembali pada 18 Agustus 2026.
  • British Airways memperpanjang penangguhan penerbangan menuju Dubai hingga 25 Oktober 2026.
  • Sejumlah maskapai lain seperti Cathay Pacific, Singapore Airlines, KLM, dan British Airways juga masih menangguhkan penerbangan menuju Dubai hingga Oktober 2026.

Sementara itu, maskapai regional mulai memulihkan sebagian operasionalnya. Emirates kini mengoperasikan penerbangan ke 140 destinasi di 72 negara, atau sekitar 97 persen dari jaringan globalnya sebelum perang. Maskapai tersebut menjalankan lebih dari 1.300 penerbangan setiap pekan, meski kapasitasnya masih berada di bawah kondisi sebelum konflik.

Qatar Airways juga telah memulihkan sebagian besar jaringannya dan mengoperasikan penerbangan ke lebih dari 160 destinasi. Sementara itu, sejumlah penerbangan menuju bandara di Dubai, Abu Dhabi, Bahrain, Doha, Kuwait, hingga Tel Aviv masih beroperasi dengan jadwal terbatas.

Dengan jadwal dan rute penerbangan masih dapat berubah mengikuti perkembangan situasi keamanan, wisatawan yang akan bepergian menuju atau transit di Timur Tengah perlu memeriksa status penerbangan secara berkala langsung dari maskapai sebelum berangkat ke bandara. Perubahan jadwal dapat terjadi dalam waktu singkat, termasuk pembatalan penerbangan, pengurangan frekuensi, hingga perubahan rute.

Kondisi ini juga berpotensi membuat penerbangan yang masih beroperasi membutuhkan waktu lebih lama karena adanya pengalihan jalur udara.
(kompas.com)

[post-views]
Selaras