Iran, mu4.co.id – Aktivitas militer Amerika Serikat kembali menjadi sorotan setelah kapal perang USS Miguel Keith terdeteksi beroperasi di kawasan Selat Malaka dalam beberapa hari terakhir.
Keberadaan kapal tersebut memicu spekulasi terkait misi yang dijalankan, meski hingga kini belum ada penjelasan resmi dari militer AS. Namun, Ketua Kepala Staf Gabungan AS Dan Caine sebelumnya mengungkapkan rencana Washington untuk memburu kapal-kapal Iran di luar kawasan Timur Tengah, termasuk di wilayah Indo-Pasifik.
“Kami melakukan operasi pencegahan maritim serupa di yurisdiksi Pasifik kami terhadap kapal-kapal yang meninggalkan area tertentu sebelum dimulainya blokade,” ujarnya dilansir dari Sindo News, Rabu (22/4).
Sejumlah analis menilai, kawasan Selat Malaka menjadi titik strategis karena menjadi jalur lalu lintas kapal tanker, termasuk yang diduga bagian dari “armada gelap” yang mengangkut minyak dari negara-negara yang terkena sanksi seperti Iran.
Baca juga: Selat Hormuz Diblokade, Ketegangan Merambat ke Selat Malaka
Menurut laporan Lloyd’s List, wilayah perairan Pasifik, termasuk sekitar Selat Malaka, merupakan salah satu area konsentrasi kapal-kapal tersebut.
Sementara itu, analis maritim sekaligus mantan perwira Angkatan Laut AS Charlie Brown menilai pola pergerakan kapal perang AS saat ini mengindikasikan kemungkinan operasi serupa dengan yang pernah dilakukan terhadap kapal tanker terkait Venezuela.
“Amerika Serikat sebelumnya telah mencegat kapal tanker yang dikenai sanksi di perairan dekat Venezuela dan jauh, termasuk di Samudra Hindia,” kata Brown dilansir dari CNN, Rabu (22/4).
Ia menyebut, operasi semacam itu biasanya dilakukan di laut lepas, di mana Amerika Serikat memiliki ruang gerak yang lebih luas dari sisi hukum internasional.
“Jika operasi serupa terjadi, itu akan dilakukan di laut lepas, di mana Amerika Serikat memiliki lebih banyak kebebasan manuver dan lebih sedikit pembatasan,” tambahnya.
Baca juga: AS Cegat 8 Kapal Tanker Minyak Iran Sejak Blokade
Berdasarkan citra satelit, USS Miguel Keith terlihat bergerak menuju Selat Malaka sejak pertengahan April setelah sebelumnya berangkat dari Jepang dan sempat singgah di perairan Singapura.
Kapal ini dikenal sebagai pangkalan maritim ekspedisi yang mendukung berbagai operasi, termasuk penanggulangan ranjau dan misi khusus.
Di sisi lain, meningkatnya aktivitas militer ini juga berkaitan dengan ketegangan di Selat Hormuz, yang sebelumnya menjadi fokus operasi blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa dinamika keamanan maritim global kini tidak hanya terpusat di Timur Tengah, tetapi juga mulai bergeser ke kawasan Indo-Pasifik.
(Sindo News, CNN Indonesia)















