Media Utama Terpercaya

8 Juni 2026, 15:31
Search

Rupiah Kian Terpuruk, Biaya Hidup Mahasiswa Indonesia di Eropa Membengkak

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Biaya Hidup Mahasiswa Indonesia di Eropa Membengkak
Biaya Hidup Mahasiswa Indonesia di Eropa Membengkak [Foto: Ilustrasi mu4.co.id]

Jakarta, mu4.co.id – Nilai tukar rupiah terus melemah, bahkan kini kurs euro terhadap rupiah mencapai Rp 21.034, berdasarkan data European Central Bank (ECB), pada Jumat (05/06/2026).

Hal itu pun ikut dirasakan warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Eropa, terutama mahasiswa yang masih bergantung pada kiriman uang dari Indonesia. Bagi sebagian mahasiswa, kondisi ini berarti biaya hidup yang tiba-tiba ikut naik tanpa ada perubahan pengeluaran di lapangan.

Salah satu yang merasakan kondisi tersebut adalah Rahmalia Intan, Mahasiswa program Magister Kebijakan Publik di University of Padua, Italia. Sejak mulai kuliah pada September 2025, ia merasakan lonjakan kurs euro yang terjadi cepat dalam waktu kurang dari setahun.

“Awal kuliah kurs di angka Rp 18 ribu – Rp 19 ribu, itu nggak terlalu tinggi di bulan Oktober. Masih nyaman. Sekitar Januari Februari ke Rp 20 ribu, sekarang Rp 21 ribu. Jadi dalam waktu 10 bulan kenaikannya sudah sekitar dua ribu poin,” ujarnya, Sabtu (06/06/2026).

Baca juga: Daftar Provinsi Dengan Biaya Hidup Layak. Kaltim Urutan Kedua, Bagaimana Dengan Kalsel?

Rahmalia mengandalkan kombinasi beasiswa Pemerintah Italia, pekerjaan paruh waktu, serta kiriman dari orang tua untuk menutup kebutuhan hidupnya. Namun, pelemahan rupiah membuat beban keluarga di Indonesia ikut meningkat karena jumlah rupiah yang harus disiapkan menjadi lebih besar untuk kebutuhan yang sama.

“Kalau exchange-nya kecil nggak terlalu terasa. Tapi kalau sudah di atas 100 atau 200 Euro, selisihnya langsung besar. Yang tadinya sekitar Rp1,9 juta sekarang jadi Rp 2,2 juta bahkan sudah menyentuh R p2,3 juta. Berat banget,” ungkapnya.

Ia juga menyebut banyak mahasiswa Indonesia lain di Eropa merasakan hal yang sama, terutama mereka yang membiayai studi secara mandiri. “Banyak yang cukup mengeluh karena kenaikannya cukup signifikan. Biasanya kurs sempat turun di tengah minggu, tapi sekarang malah naik sampai penutupan market. Buat kami yang di sini cukup berat,” katanya.

Rahmalia pun berharap ada perhatian lebih dari pemerintah terhadap kondisi ekonomi global yang berdampak langsung ke warga. “Harapannya pemerintah mulai aware dengan kebijakan fiskal dan komunikasinya, lebih bijak. Pemerintah juga responsif terhadap sesuatu yang memang penting seperti soal rupiah ini,” ujarnya.

Di sisi lain, pelemahan rupiah tidak selalu menjadi kabar buruk bagi WNI di luar negeri. Jasmine Fravartirahmi, Koordinator Hubungan Internasional di Excelia Campus Paris-Cachan, Prancis, justru merasakan keuntungan dari kondisi tersebut.

Dengan pendapatan dalam euro, ia bisa mengirim lebih banyak rupiah ke Indonesia tanpa menambah jumlah pengeluaran dalam mata uang asing. Ia rutin mengirim uang untuk keluarganya di Indonesia setiap bulan. Saat kurs euro menguat, jumlah rupiah yang diterima keluarganya ikut meningkat.

“Karena rupiah melemah, jadi aku nggak perlu mengeluarkan euro sebanyak waktu sebelumnya. Dari sisi pribadiku lebih bisa dibilang nyaman karna aku ngeluarin Euro dengan jumlah yang sama tapi keluargaku nerima rupiah yang lebih banyak,” jelasnya.

Meski demikian, ia juga berharap kondisi rupiah bisa kembali stabil demi perekonomian Indonesia secara umum. “Semoga bisa membaik karena rupiah nggak pernah selemah dan semahal ini. Semoga lebih baik untuk perekonomian Indonesia, apalagi bagi diaspora yang masih harus mengeluarkan rupiah lebih banyak daripada biasanya,” tuturnya.

(detik.com)

[post-views]
Selaras