Jakarta, mu4.co.id – Harga telur anjlok dari Rp 26.500 menjadi hanya Rp 21.000 per kg, yang disebut dipicu oleh kurangnya serapan telur untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), ditambah daya beli masyarakat yang saat ini turun.
Diketahui, saat ini produksi nasional Indonesia meledak hingga 18.000 ton atau sekitar 280 juta butir setiap harinya. Namun, melimpahnya pasokan ini tidak dibarengi dengan serapan pasar yang memadai.
Peternak ayam petelur pun mengeluh dan merasa dikhianati oleh keadaan, di saat mereka berhasil memenuhi kebutuhan protein nasional, harga telur di tingkat kandang justru anjlok, hingga disebut sudah di bawah biaya operasional peternak.
“MBG yang kami andalkan, MBG yang kami harap-harapkan, ternyata penyerapannya pun terjadi pengurangan. Sehingga saat ini kondisi yang kami alami di lapangan, harga telur langsung anjlok ke titik 21.000. Dan kondisi ini bukan kondisi yang nyaman karena pakan naik dua kali, lebih kurang 400 rupiah, pakan jadi juga 400 rupiah,” ujar Presidium PINSAR Petelur Nasional, Yudianto Yosgiarso, Sabtu (02/05/2026).
“Kita sudah swasembada, produksi melimpah, tapi serapannya rendah, ditambah daya beli masyarakat yang sedang jatuh. Akibatnya apa? Harga telur menumpuk, harganya terpuruk hancur lebur,” tambahnya.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Melonjak Capai US$140, Tertinggi Sejak 2008!
Sementara itu, Pengurus PINSAR, Suwardi mengatakan terdapat kabar mengenai anak sekolah yang bosan makan telur dianggap sebagai alasan yang tidak masuk akal dan tidak bertanggung jawab.
“Ada keluhan katanya anak SD kalau diberi telur 3-4 hari berturut-turut bosan. Ini tidak boleh terjadi. Tujuan program ini kan untuk gizi anak-anak menuju Indonesia Emas, sekaligus menyerap produksi peternak. Kalau guru-gurunya saja tidak bertanggung jawab membiarkan telur tidak dimakan, ya serapan pasti rendah,” tegasnya.
Pihaknya mengaku banyak berharap dengan adanya MBG untuk penyerapan telur. Namun kenyataannya serapan telur untuk program MBG saat ini disebut baru menyentuh angka 1 persen.
“Makanya dengan kehadiran MBG yang kemarin disampaikan Pak Prabowo betulnya program ini mulia, tetapi tidak dibarengi bahwasanya perencanaan yang baik sehingga dalam pengelolaan MBG, penggunaan apa asupan yang di dalamnya belum semua dapur mengikuti,” imbuh Suwardi.
Para peternak pun mendesak pemerintah untuk segera melakukan tindakan darurat. Mereka menuntut regulasi yang tegas untuk menjaga ekosistem perunggasan dari hulu hingga hilir, termasuk menghidupkan kembali program penanganan stunting untuk menyerap stok telur.
Mereka akan bakal mengirimkan surat kepada Menteri Pertanian hingga Menko Pangan agar segera ada tindakan nyata di lapangan untuk menyelamatkan nasib peternak rakyat.
(detik.com)



![Acara penandatanganan kerja sama pembangunan Instalasi Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik [PSEL]](https://mu4.co.id/wp-content/uploads/2026/04/IMG_8574-300x200.jpeg)










