Media Utama Terpercaya

27 Juni 2026, 20:43
Search

Harga Minyak Dunia Turun ke US$60-an per Barel usai Selat Hormuz Kembali Dibuka

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Harga Minyak Dunia Turun ke US$60-an per Barel
Harga Minyak Dunia Turun ke US$60-an per Barel [Foto: Ilustrasi mu4.co.id]

Jakarta, mu4.co.id – Harga minyak mentah dunia turun signifikan menyusul pembukaan kembali Selat Hormuz, usai kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Sebelumnya, dalam beberapa bulan harga minyak mencapai US$100 per barel, kini harga minyak dunia berangsur mendingin bahkan berada di level US$60-an per barel.

Pada perdagangan Jumat (26/06/2026), harga minyak Brent turun 4,34% menjadi US$71,99 per barel. Senada, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) juga anjlok 3,74% ke US$69,23 per barel. Adapun dalam sepekan, harga minyak brent telah turun 10,65% dan WTI telah merosot 9,62%.

Meski demikian, situasi belum sepenuhnya normal. Jumlah kapal yang melintas masih jauh di bawah rata-rata sekitar 125 kapal per hari sebelum konflik berlangsung. Artinya, pelayaran memang mulai pulih, tetapi aktivitas distribusi minyak global belum kembali ke kondisi sebelum krisis.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Anjlok 20% dari Level Tertinggi 2026

Di sisi lain, risiko geopolitik masih terus membayangi pasar. Sebelumnya, pada Kamis (25/06/2026), sebuah kapal kargo dilaporkan terkena proyektil tak dikenal di dekat perairan Oman. Insiden tersebut sempat mendorong harga minyak melonjak lebih dari 2% karena Organisasi Maritim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menghentikan sementara skema evakuasi sukarela bagi kapal-kapal di kawasan itu.

Kondisi tersebut juga membuat pasar berada dalam tarik-menarik dua sentimen besar. Di satu sisi, jalur ekspor minyak semakin terbuka sehingga kekhawatiran pasokan berkurang. Di sisi lain, setiap insiden keamanan baru di sekitar Hormuz masih berpotensi menghidupkan kembali premi risiko geopolitik apabila menghambat lalu lintas tanker atau memaksa produsen meninjau kembali rencana peningkatan produksinya.

Saat ini, fokus pasar bergeser dari ancaman penutupan Selat Hormuz menuju seberapa cepat aktivitas pengiriman minyak dapat kembali normal. Selama arus tanker terus membaik dan tidak muncul gangguan besar baru terhadap pasokan global, tekanan terhadap harga minyak berpeluang masih berlanjut, meski volatilitas tetap tinggi karena kawasan Timur Tengah masih menyimpan risiko keamanan yang sulit diprediksi.

Harga minyak mentah dunia yang turun itupun memberikan harapan untuk ekonomi dunia berakselerasi, karena harga minyak mentah dunia memengaruhi harga energi yang ujung-ujungnya terkait inflasi serta daya beli masyarakat. Saat harga energi turun, daya beli masyarakat akan terjaga lebih solid sehingga mampu mendorong ekonomi yang akibat perang Timur Tengah diproyeksi melambat pada 2026 ini.
(cnbcindonesia.com, cnnindonesia.com)

[post-views]
Selaras