Palangka Raya, mu4.co.id – Guru SDN 2 Petuk Bukit, Kecamatan Rakumpit, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Qasim Al Qusyairi berhasil masuk tiga finalis terbaik nasional pada ajang “Insan Pendidikan Berdampak 2026” kategori Inovator Pendidikan Formal dari GuruInovatif.id, atas dedikasinya menciptakan inovasi yang berdampak bagi dunia pendidikan.
“Inovasi yang diangkat bertajuk HUMA ITAH, lahir dari kegelisahan terhadap kondisi sekolah di wilayah pinggiran yang sempat memiliki rapor pendidikan berwarna merah selama bertahun-tahun akibat keterbatasan fasilitas dan tenaga pendidik,” ungkap Sekretaris Dinas Pendidikan (Disdik) Palangka Raya Aprae Vico Ranan dikutip dari Antara Kalteng, Senin (12/5).
Dalam ajang tersebut, Qasim Al Qusyairi berhasil bersaing dengan peserta dari berbagai daerah dan jenjang pendidikan di Indonesia.
Baca Juga: Menag Beri Penghargaan Kepada Ahmad Zubaidi Sebagai Guru Madrasah Inspiratif!
Salah satu inovasi Qasim adalah aplikasi SI DIKI (Sistem Informasi Digital Keren dan Kreatif), yakni platform berbasis Android yang telah terdaftar Hak Kekayaan Intelektual (HKI), dengan menyediakan akses belajar digital gratis bagi siswa di daerah pelosok.
Inovasi itu disebut mampu meningkatkan mutu pendidikan sekolah, terlihat dari rapor pendidikan yang berubah dari kategori merah menjadi hijau serta munculnya prestasi siswa hingga tingkat provinsi.
“Inovasi tersebut juga mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang bersih dan nyaman melalui gerakan positif harian seperti GASPOL 10 dan Jum’at Barasih,” jelas Vico.
Baca Juga: Guru Palangka Raya Sukses Ciptakan “Math Galaxy”, Belajar Matematika Serasa Main Game
Di kesempatan berbeda, Qasim Al Qusyairi menyatakan keberhasilan tersebut membuktikan keterbatasan bukan hambatan untuk terus berinovasi di dunia pendidikan.
“Pendidikan adalah tentang menyalakan lilin, bukan sekadar meratapi kegelapan. Jarak geografis dan keterbatasan fasilitas bukanlah penghalang untuk melahirkan inovasi yang berpusat pada siswa,” ujar Qasim.
Prestasi tersebut diharapkan menjadi inspirasi bagi tenaga pendidik di Kalimantan Tengah untuk terus berinovasi agar sekolah di daerah pelosok mampu bersaing di tingkat nasional demi mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.
(Antara Kalteng)















