Media Utama Terpercaya

14 Juni 2026, 23:54
Search

BRIN Temukan Spesies Baru Terong Berduri Asal Kalimantan, Bisa Jadi Obat Kanker

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
BRIN Temukan Spesies Baru Terong Berduri Asal Kalimantan
BRIN Temukan Spesies Baru Terong Berduri Asal Kalimantan [Foto: bri.go.id]

Banjarmasin, mu4.co.id – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan mengungkapkan satu spesies tanaman baru asal Kalimantan, yang dikenal dengan terong berduri dengan nama ilmiah Solanum kalimantanense.

Penelitian ini terbit di Jurnal internasional Taprobanica Volume 15 Nomor 1 tahun 2026, dengan judul “A New Spiny Eggplant Species Of The Genus Solanum L. (Angiosperms: Solanaceae) From Indonesian Borneo.”

Terong berduri ini termasuk dari genus Solanum/Solonaceace atau terong-terongan dan diketahui memiliki kemiripan dengan Solanum lasiocarpum (terong dayak). Namun, hasil penelitian mengungkapkan bila Solanum kalimantanense berbeda dengan Solanum lasiocarpum secara morfologinya.

Tanaman tersebut memiliki ukuran daun yang panjang dan lebarnya hampir sama, lekukan daun yang sangat dangkal, permukaan buah matang berbulu halus dan jarang, serta ukuran buah yang lebih besar. Berdasarkan analisis DNA, Solanum kalimantanense juga disebut memiliki perbedaan genetik yang cukup signifikan dibanding spesies kerabat terdekatnya. Perbedaan yang ada membuktikan bila keanekaragaman tumbuhan di Indonesia sangat kaya. Kehadirannya juga menambah data keanekaragaman tumbuhan dari pulau Kalimantan.

“Temuan ini menunjukkan Indonesia masih memiliki potensi biodiversitas yang sangat besar dan belum seluruhnya terdokumentasi secara ilmiah, termasuk dari kelompok tumbuhan yang telah dikenal dan dimanfaatkan masyarakat,” ujar salah satu peneliti, dikutip dari laman resmi BRIN, Ahad (14/06/2026).

Baca juga: BRIN Ungkap Harta Karun Metana Hidrat di Dasar Laut Indonesia, Potensinya Capai 800 TSCF!

Peneliti menambahkan bahwa mereka memang menggunakan kombinasi pendekatan morfologi dan analisis DNA dalam penelitian Solanum kalimantanense. Kedua pendekatan tersebut sangat penting dalam memastikan status spesies baru. “Pendekatan integratif melalui pengamatan morfologi dan DNA barcoding membantu kami membedakan spesies ini dari kerabat dekatnya secara lebih akurat,” ungkapnya.

Secara ekologis, Solanum kalimantanense ditemukan bisa tumbuh di berbagai tipe tanah, dari tanah lempung berpasir hingga tanah hitam asam. Tanaman ini tersebar di beberapa wilayah Kalimantan Timur-Selatan di ketinggian 9-1.700 meter di atas permukaan laut.

Tanaman ini dikenal masyarakat lokal dengan sebutan terong asam atau terong dayak. Biasanya, masyarakat memanfaatkan tanaman itu sebagai bahan pangan, dan banyak dijual di pasar terapung Banjarmasin, yang umum diolah sebagai sayuran.

Namun, satu hal yang menarik ditemukan pada masyarakat di Kecamatan Kenohan, Kalimantan Timur yang memanfaatkan Solanum kalimantanense dengan cara berbeda. Mereka menggunakan daun dan kuncup buah Solanum kalimantanense sebagai obat tradisional, yang dikenal dengan istilah “wikat”. Wikat sendiri dinilai bermanfaat dalam pengobatan kanker.

Meski demikian, spesies ini diduga memiliki potensi terbatas, jika diurutkan berdasarkan kriteria International Union for Conservation of Nature (IUCN), Solanum kalimantanense berpotensi masuk kategori rentan punah (Vulnerable).

Untuk itu, penanganan keselamatan atau konservasi lebih lanjut perlu dilakukan.  Dengan begitu, pendataan dan pelestarian keanekaragaman hayati nasional tetap terjaga. “BRIN akan terus melakukan penelitian biodiversitas untuk mendukung pengungkapan potensi flora Indonesia serta pemanfaatannya secara berkelanjutan,” tandas BRIN.

[post-views]
Selaras