Yogyakarta, mu4.co.id – Akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Dr. Eng. Akbar Rahman, S.T., M.T., memperkenalkan inovasi material bata ringan berbahan limbah rumah tangga, dalam kegiatan Silaturahmi Nasional (Silatnas) Eco Enzyme Nusantara 2026 di Kaliurang, Yogyakarta, pada 29–30 Agustus 2026.
Penelitian tersebut diketahui berasal dari dua persoalan yang saling berkaitan, yaitu meningkatnya timbulan limbah dan kebutuhan material bangunan yang sesuai dengan karakter kawasan lahan basah. Adapun material konstruksi dari inovasi tersebut lebih ringan dibandingkan bata konvensional. Akbar menilai, bangunan di kawasan lahan basah memerlukan perhatian khusus terhadap berat konstruksi karena kondisi tanahnya umumnya memiliki daya dukung relatif rendah.
“Penggunaan material dinding yang lebih ringan berpotensi mengurangi beban mati bangunan dan beban yang diteruskan kepada fondasi. Hal ini penting, terutama untuk bangunan di kawasan lahan basah,” jelasnya, dikutip dari jejakrekam.com, Ahad (30/08/2026).
Di samping itu, material tersebut juga menawarkan manfaat termal bagi bangunan, yang mampu menghambat perpindahan panas lebih baik sehingga berpotensi mengurangi panas yang masuk dari luar ke dalam bangunan. Karakter tersebut dinilai relevan untuk bangunan di wilayah beriklim tropis seperti Kalimantan yang menerima paparan panas matahari cukup tinggi.
Baca juga: BRIN Kembangkan Papuyu Unggul, Kurangi Ketergantungan pada Tangkapan Alam
Dinding dengan kemampuan menahan panas yang lebih baik dapat membantu menjaga suhu ruang lebih stabil, meningkatkan kenyamanan penghuni, serta berpotensi mengurangi kebutuhan energi untuk pendinginan.
“Material bangunan tidak cukup hanya ringan dan kuat. Dalam konteks iklim tropis, material juga perlu memiliki kinerja termal yang baik. Hasil pengujian menunjukkan adanya potensi untuk menahan panas lebih baik sehingga dapat mendukung terciptanya bangunan yang lebih nyaman dan hemat energi,” kata Akbar.
“Target kami bukan sekadar menghasilkan bata yang ringan. Material ini juga harus memiliki kekuatan, ketahanan, kinerja termal, dan konsistensi mutu yang memadai. Karena itu, penerapannya secara luas tetap harus didasarkan pada hasil pengujian laboratorium dan kesesuaian dengan standar bahan bangunan,” tambah Akbar, yang juga menjabat Ketua Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik ULM dan Ketua Eco Enzyme Nusantara Kalimantan Selatan.
Melalui penelitian ini, pemanfaatan limbah rumah tangga diharapkan dapat mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir sekaligus menekan penggunaan bahan baku alam.















