Media Utama Terpercaya

25 Oktober 2026, 20:12
Search

Indonesia Resmi Pangkas Ekspor Gas ke Singapura, Ini Alasannya!

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Ekspor gas
Indonesia Resmi Pangkas Ekspor Gas ke Singapura [Foto: Ilustrasi mu4.co.id]

Jakarta, mu4.co.id – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) resmi memangkas volume ekspor gas bumi Indonesia ke Singapura, per Sabtu (24/10/2026).

Pemangkasan pengiriman gas ke Singapura tersebut dilakukan dari dua titik pasokan utama di wilayah Natuna dan Sumatra melalui pipa. Dari wilayah Natuna sebesar 15 BBTUD serta dari Sumatra sebesar 16 BBTUD. Dengan begitu, ekspor gas ke Singapura akan dipangkas sebesar 31 BBTUD.

“Mulai besok (Sabtu, 23/10/2026, hari ini), kita kurangi (ekspor) gas ke Singapura dari Natuna 15 BBTUD, dari Sumatra 16 BBTUD,” ujar Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, Jumat (23/10/2926) malam.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia akan melakukan penghitungan ulang terhadap porsi ekspor gas guna mengoptimalkan pemenuhan kebutuhan di dalam negeri, untuk mendukung pasokan bahan baku industri hilirisasi petrokimia nasional.Ia memaparkan bahwa saat ini Indonesia masih mengekspor sebesar 30% dari total produksi gas nasional, sementara 70% sisanya dialokasikan untuk konsumsi domestik.

“Ekspor (gas) kita kalau migas kan total produksi kita 100%, itu masih ada kurang lebih sekitar 30% yang kita ekspor. 70%-nya itu untuk konsumsi domestik, termasuk di dalamnya adalah untuk produk bahan baku hilirisasi,” ungkap Bahlil, Jumat (23/10/2026).

Baca juga: Indonesia Oversupply Ayam dan Telur, Kementan Akan Ekspor ke Arab Saudi dan China

Selain itu, pihaknya juga akan menyusun skema evaluasi alokasi pasokan gas agar porsi untuk industri dalam negeri dapat ditingkatkan, guna menjamin ketersediaan bahan baku bagi pengembangan sektor hilirisasi.

“Nah ke depan, saya akan mencoba untuk melakukan exercise ulang agar mengoptimalkan untuk konsumsi dalam negeri, termasuk di dalamnya bahan baku. Karena ke depan kita mendorong kan industri hilirisasi di petrokimia. Bahan bakunya adalah gas,” tambahnya.

Diketahui sebelumnya, wacana untuk menghentikan ekspor gas ini kali pertama diungkapkan Bahlil beberapa hari lalu, pada 21 Oktober 2026 di Istana Negara. Bahlil tiba-tiba menyebut Pemerintah Indonesia tengah mempertimbangkan untuk menghentikan ekspor gas ke negara tetangga.

Ia mengatakan, wacana ini dengan mempertimbangkan isu ketahanan energi nasional, di tengah kondisi dinamika geopolitik dunia yang masih panas.

“Ya memang harus survival, kita sebagai pejabat negara, Bapak Presiden sebagai Presiden, pasti apa yang disampaikan Presiden, semua kementerian mampu menjabarkan dalam konteks menuju survival. Jadi kalau negara lain ada pandangan lain untuk kita, hati-hati. Saya juga mungkin memikirkan untuk gas saya tidak perpanjang untuk ekspor ke negara tetangga karena harus survival kan, harus penuhi kebutuhan dalam negeri,” ungkap Bahlil, Rabu (21/10/2026).
(cnbcindonesia.com)

[post-views]
Selaras